Manajer interim Michael Carrick hanya butuh tiga pekan membawa Manchester United mencetak hattrick kemenangan. Dan, keberhasilan menaklukkan Fulham 3-2 di pertandingan Premier League Inggris di Stadion Old Trafford, Minggu (1/2/2026) malam WIB ditentukan lewat gol menit terakhir Benjamin Sesko.
Entah Carrick yang memang lebih jago ketimbang manajer yang digantikannya, Ruben Amorim, atau memang dia yang paling mengerti DNA Man Utd warisan Sir Alex Ferguson.
Ya, Amorim butuh satu tahun membawa Manchester United meraih kemenangan. Namun dirinya gagal menjadikan Red Devils meraih kemenangan pada laga berikutnya. Bahkan Amorim akhirnya malah menerima kenyataan pahit, dipecat.
Saat Carrick dipanggil kembali menangani Manchester United menggantikan Amorim, eks gelandang era Ferguson ini justru berhasil menyulap tim yang sudah compang-camping bisa bangkit. Laga melawan Fulham menjadi ujian sesungguhnya Carrick setelah menaklukkan dua tim elite, Manchester City 2-0 dan Arsenal 3-2.
Bahkan bayang-bayang kegagalan itu sempat muncul saat Manchester United yang sudah unggul 2-0 malah kebobolan hingga dua kali lewat gol Raul Jimenez dan Kevin. Tak hanya itu, Manchester United pun seharusnya sudah kalah bila gol Jorge Cuenca tidak dianulir karena offside.
Namun ‘Carrick Time’ yang mengulang momen dramatis ‘Fergie Time’ seperti di final Liga Champions 1999 pantas disematkan kepada sang manajer sementara itu. Gawang Senne Lammens dibobol Kevin di menit 90+1. Pertandingan pun diperkirakan berakhir imbang. Hanya saja, striker Benjamin Sesko yang masuk sebagai pemain pengganti menolak menyerah selama peluit akhir belum ditiup.
Alhasil, Sesko yang menerima umpan menyilang dari kapten Bruno Fernandes membobol gawang The Cottagers di menit 90+4. Gol yang membuat Old Trafford bergemuruh karena menjadi penentu kemenangan Manchester United di menit terakhir dan tercipta di hadapan suporter garis keras di tribun Stretford End. Tribun yang dihuni suporter paling galak, keras sekaligus paling loyal terhadap tim kesayangan.
Carrick pun mempertahankan rekor tak terkalahkan selama tujuh pertandingan menangani Manchester United. Lebih dari itu, dirinya tak perlu berlama-lama dan hanya perlu tiga pekan membawa tim asuhannya mencetak hattrick kemenangan. Carrick pun bersuka-cita dengan gol Sesko di menit terakhir. Momen yang kerap dialaminya saat masih di bawah Ferguson.
“Inilah perasaan terbaik yang ingin saya katakan,” ujar Carrick. “Saya pernah menjadi bagian seperti mereka saat mengalami momen-momen terbaik seperti itu. Anda bisa saja mengalami penurunan performa dan tiba-tiba mendapat tambahan tenaga dan kemudian meraih momen penuh suka-cita seperti ini,” ucapnya.
“Bagi saya tak ada tempat yang lebih baik saat merayakannya di hadapan [fans] Stretford End. Itu berarti segala-galanya,” kata dia lagi.
“Orang pun bisa meninggalkan tempat ini dengan berkata, ‘United menang hari ini’. Ini adalah puncak dari emosi dan perasaan dan kami sungguh menyukainya,” ujar Carrick.
Carrick pantas puas dengan kemenangan itu. Apalagi, tim asuhannya mengawali laga dengan sangat baik. Hanya suporter sempat melakukan aksi demonstrasi dengan memakai topeng pelawak. Fans mengecam pemilik klub, keluarga Glazers dan Jim Ratcliffe yang mengelola Man Utd seperti sebuah sirkus. Karena itu, mereka melakukan demo dengan memakai topeng pelawak yang menyindir pada pemilik klub.
Di arena, Manchester United menunjukkan performa terbaik dan sesungguhnya berpeluang mendapat hadiah penalti saat Matheus Cunha dijatuhkan Cuenca di menit 19. Hanya setelah meninjau lewat VAR, wasit membatalkan keputusan penalti dan memberikan tendangan bebas. Alasannya pelanggaran itu terjadi di luar kotak penalti.
Namun kegembiraan pemain Fulham atas keputusan itu hanya berlangsung sesaat. Fernandes yang mengambil tendangan bebas dengan cerdik dan kalem mengirim bola ke depan gawang yang disambut dengan sundulan Casemiro yang menaklukkan kiper Bernd Leno.
Gol Casemiro yang menyatakan ingin pergi setelah kontraknya berakhir pada Juni tahun ini membawa Man Utd unggul 1-0. Skor itu juga bertahan hingga babak pertama usai.
Di babak kedua, Manchester United tetap bermain agresif. Hasilnya, tuan rumah memperbesar keunggulan di menit 56. Lagi-lagi, Casemiro turut terlibat dalam gol itu, Umpan terobosan dia dituntaskan dengan baik oleh Cunha yang membawa Manchester United unggul 2-0.
Hanya Fulham menolak menyerah. Tim asuhan Marco Silva melakukan serangan yang memaksa Manchester United memperkuat pertahanan. Fulham seharusnya sudah bisa memperkecil ketinggalan saat Cuenca menaklukkan Lammens di menit 65. Namun setelah ditinjau VAR, gol itu dianulir karena Samuel Chukwueze yang meneruskan bola tendangan bebas dari Jimenez kepada Cuenca dinyatakan offside.
Kecewa dengan keputusan wasit, tetapi Fulham tetap berusaha melakukan tekanan. Upaya klub London ini pun membuahkan hasil saat mendapat hadiah penalti di menit 85. Pelanggaran yang dilakukan bek Harry Maguire terhadap Jimenez menjadikan wasit menunjuk titik putih. Jimenez sendiri yang mengambil eksekusi penalti dan Lammens sesungguhnya sudah bisa membaca arah bola. Namun dia tetap gagal menjangkau bola yang meluncur ke sudut gawang.
Skor berubah 2-1 dan Manchester United diprediksi bakal menang. Namun saat laga memasuki injury time, pemain Man Utd dikejutkan dengan aksi brilian Kevin. Dari sisi kanan pertahanan Manchester United, dia melepaskan tendangan keras yang menaklukkan Lammens. Gol yang membuat suporter terdiam karena skor menjadi 2-2 dan bayang-bayang kegagalan meraih tiga poin sudah di depan mata.
Hanya saja, Manchester United menunjukkan semangat tidak menyerah hingga peluit akhir. Dan, Sesko membuktikannya. Striker yang masih jarang mencetak gol ini justru menjadi penyelamat lewat golnya menjelang bubaran. Skor berubah 3-2 dan Man Utd menutup laga dengan kemenangan.
Kemenangan yang membawa Manchester United kembali ke zona Liga Champions. Mereka naik ke peringkat empat dengan menggeser Chelsea dan Liverpool setelah mengantungi poin 41. Sedangkan Fulham yang menempati posisi delapan memiliki poin 34. (Rio)
