Jumat, Maret 6, 2026

JK: Perdamaian Dunia Butuh Keadilan dan Penguasaan Teknologi

Jakarta, Demokratis

Wakil presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) mengatakan upaya perdamaian menciptakan perdamaian dunia harus didasarkan pada keadilan serta didukung dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kalla mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mendamaikan pihak yang berselisih merupakan amal yang lebih utama dibandingkan salat dan puasa sunnah. Ini menunjukkan betapa pentingnya perdamaian dalam kehidupan manusia.

“Rasulullah mengatakan amal yang lebih tinggi daripada salat dan puasa adalah mendamaikan orang yang berselisih,” kata dia saat memberikan tausiah Tarawih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Kamis (5/3/2026).

Kalla menjelaskan konflik umumnya muncul karena berbagai faktor, mulai dari ketidakadilan, persoalan politik dan sosial, sengketa wilayah, ideologi, hingga agama dan perebutan sumber daya alam.

Ia menilai ketidakadilan menjadi penyebab terbesar konflik, termasuk di Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, terdapat sedikitnya 15 konflik besar, sebagian besarnya dipicu oleh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

“Dari sekitar 15 konflik besar di Indonesia, sembilan di antaranya terjadi karena ketidakadilan,” kata dia.

Kalla juga menyoroti konflik global yang saat ini terjadi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Menurut dia, situasi tersebut ironis karena ajaran Islam menekankan pentingnya perdamaian.

Selain itu, ia menyinggung dinamika konflik internasional, termasuk antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Perang modern kini tidak lagi ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh penguasaan teknologi militer seperti roket, drone, dan sistem persenjataan canggih.

“Perang sekarang bukan lagi soal banyaknya tentara, tetapi siapa yang menguasai teknologi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kalla menekankan pentingnya pengembangan sains dan teknologi di lingkungan perguruan tinggi. Kampus memiliki peran strategis dalam menciptakan inovasi yang dapat memperkuat kemajuan bangsa.

Ia juga menyinggung peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana tercantum dalam pembukaan konstitusi Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Menurut Kalla, Indonesia sejak lama telah berkontribusi dalam diplomasi perdamaian, salah satunya melalui gagasan presiden pertama RI Soekarno yang menggagas Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung.

Kalla turut membagikan pengalamannya dalam menyelesaikan konflik di Indonesia, termasuk konflik di Ambon yang berhasil dihentikan melalui perundingan damai yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Malino.

Ia mengatakan pendekatan dialog, keberanian, serta pemahaman agama secara benar menjadi kunci untuk menghentikan kekerasan antar kelompok yang berkonflik. “Konflik bisa dihentikan jika kita memahami akar masalahnya dan mau duduk bersama mencari solusi,” katanya.

Melalui tausiah tersebut, Kalla mengajak masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa, untuk berperan aktif dalam menciptakan perdamaian serta mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa. (EKB)

Related Articles

Latest Articles