Kamis, April 9, 2026

FORGAS Bali Gelar Seminar Nasional Penguatan Dresta Bali dan Ketahanan Ideologi

Denpasar, Demokratis

Seminar Nasional bertajuk “Strategi Penguatan Dresta Bali dalam Mencegah dan Menangkal Intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional” digelar oleh DPD FORGAS Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (3/4/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Mewali Ring Uluning Kertha” ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat Hindu Nusantara, khususnya Hindu Dresta Bali, dalam menghadapi pengaruh sampradaya asing yang dinilai sebagai ancaman nonmiliter terhadap adat, budaya, dan ideologi lokal Bali.

Seminar nasional tersebut menghadirkan berbagai tokoh nasional, akademisi, tokoh adat, serta unsur pemerintahan yang membahas strategi penguatan adat, budaya, dan ketahanan ideologi Hindu Bali di tengah derasnya arus ideologi transnasional.

Ketua DPD FORGAS Bali, Dr. Drs. Kadek Arya Bagiastra, S.E., S.H., M.H., M.M., MBA., F.SAI., AAIJ., AMRP., CLA., CTA., CIAC, menegaskan bahwa seminar ini merupakan bentuk nyata kepedulian FORGAS terhadap upaya menjaga kelestarian adat, budaya, dan ajaran Hindu Bali dari berbagai pengaruh luar yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai lokal.

Menurutnya, Bali memiliki kekuatan besar pada adat, budaya, desa adat, dan warisan leluhur yang selama ini menjadi pondasi utama kehidupan masyarakat. Karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk infiltrasi ideologi transnasional yang dapat menggerus identitas Bali secara perlahan.

“Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan adat dan budayanya. Jika adat dan budaya kita melemah, maka identitas Bali juga akan ikut terancam. Oleh sebab itu, penguatan Dresta Bali harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Arya Bagiastra.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda Hindu Bali untuk memahami nilai-nilai Tattwa, Susila, dan Acara, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ideologi luar yang bertentangan dengan jati diri masyarakat Bali.

Selain itu, Arya Bagiastra menilai desa adat memiliki posisi yang sangat strategis sebagai benteng utama dalam menjaga ketahanan budaya dan ideologi lokal. Menurutnya, desa adat bukan hanya pusat kegiatan sosial dan budaya, tetapi juga menjadi ruang pendidikan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara yang juga Sekretaris DPD FORGAS Bali, Prof. Dr. Dra. Ni Ketut Srie Kusuma Wardhani, M.Pd, mengatakan seminar ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus konsolidasi bagi masyarakat, akademisi, tokoh adat, dan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan global yang dapat mempengaruhi keberlangsungan Dresta Bali.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi Bali saat ini tidak hanya berupa perubahan sosial akibat modernisasi dan digitalisasi, tetapi juga masuknya berbagai ideologi dan paham yang dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat, terutama generasi muda.

“Kita tidak bisa hanya menjaga budaya secara simbolis, tetapi juga harus memperkuat pemahaman ideologis dan pendidikan karakter. Penguatan Dresta Bali harus dimulai dari keluarga, lembaga pendidikan, desa adat, hingga organisasi kemasyarakatan,” ujar Prof. Srie Kusuma Wardhani.

Ia menjelaskan bahwa penguatan pendidikan berbasis nilai-nilai Hindu Bali menjadi salah satu langkah penting agar generasi muda tetap memiliki identitas, karakter, dan rasa bangga terhadap budaya leluhurnya.

Dalam seminar tersebut, berbagai materi penting dibahas, mulai dari bela negara ditinjau dari infiltrasi agresif sampradaya asing ideologi transnasional, penguatan mental ideologi generasi muda Hindu melalui sektor pendidikan, hingga penguatan desa adat sebagai benteng budaya dalam menghadapi ekspansi ideologi transnasional.

Selain itu, seminar juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dan media sosial berbasis lembaga adat dalam menangkal penyebaran pengaruh sampradaya asing, sekaligus memperkuat peran desa adat sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan leluhur dan ketahanan budaya Bali.

Gubernur Bali yang hadir membuka kegiatan secara resmi juga menegaskan pentingnya menjaga budaya Bali secara bijaksana, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, budaya Bali merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat yang harus dijaga karena menjadi kekuatan utama Pulau Dewata.

Seminar yang digelar DPD FORGAS Provinsi Bali ini diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat ideologi bangsa yang berakar pada Pancasila dan kearifan lokal.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadi ruang konsolidasi bagi berbagai elemen masyarakat, tokoh adat, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah untuk bersama-sama menjaga keutuhan adat, budaya, dan ideologi Hindu Bali di tengah tantangan globalisasi dan pengaruh ideologi transnasional yang semakin berkembang.

Acara berlangsung mulai pukul 08.00 Wita hingga selesai dengan mengenakan pakaian Adat Bali Madya. Di akhir kegiatan juga dilakukan pengundian hadiah bagi peserta, dengan hadiah utama berupa tiga sepeda listrik dan satu unit motor listrik. (GT)

Related Articles

Latest Articles