Manajer Napoli, Antonio Conte, secara terang-terangan membiarkan pintu terbuka lebar untuk kembali menukangi Tim Nasional Italia. Juru taktik berusia 56 tahun itu bahkan dengan penuh percaya diri menyebut bahwa dirinya adalah kandidat yang sangat layak untuk mengisi kursi kosong yang ditinggalkan Gennaro Gattuso.
Pernyataan mengejutkan ini dilontarkan Conte dalam konferensi pers usai membawa Napoli menaklukkan AC Milan 1-0 dan merangsek ke posisi kedua klasemen Serie A, Senin (6/4/2026) waktu setempat.
Conte saat ini memang muncul sebagai salah satu kandidat terkuat untuk mengambil alih kendali Gli Azzurri yang tengah terpuruk usai dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
“Media memang harus menulis sesuatu, dan wajar jika nama saya muncul sebagai bagian dari daftar kandidat tersebut. Jika saya adalah Presiden FIGC, saya akan mempertimbangkan diri saya sendiri bersama kandidat lainnya. Untuk banyak alasan, saya akan memasukkan nama Conte ke dalam daftar itu,” tegas Conte di hadapan awak media.
Eks pelatih Juventus dan Chelsea ini mengaku sangat tersanjung dengan rumor yang beredar, mengingat ia pernah menukangi La Nazionale pada periode 2014 hingga 2016. “Tentu saya tersanjung, karena mewakili negara Anda adalah sesuatu yang luar biasa. Saya sudah pernah bekerja dengan tim nasional dan saya sangat memahami lingkungannya,” tambahnya.
Meski demikian, Conte mengingatkan publik bahwa ia masih berstatus sebagai pelatih resmi Napoli. “Anda semua tahu betul bahwa saya masih memiliki sisa kontrak satu tahun dengan Napoli, dan pada akhir musim nanti saya akan duduk bersama Presiden (Aurelio De Laurentiis) untuk membahasnya,” jelasnya.
Kritik Keras terhadap Sistem Sepak Bola Italia
Selain membahas peluangnya, Conte juga menyoroti krisis sistemik yang melanda sepak bola Italia usai kegagalan menembus Piala Dunia 2026. Ia mengkritik keras budaya sepak bola saat ini yang dinilainya terlalu berorientasi pada hasil akhir dan rentan terhadap kemunafikan publik.
“Sangat mengecewakan. Jika saja kita menang adu penalti melawan Bosnia dan lolos ke Piala Dunia, orang-orang akan membicarakan pencapaian luar biasa dan memuji permainan sepak bola Italia. Sayangnya, sekarang hanya hasil akhir yang dihitung dalam olahraga ini,” kritik Conte.
Ia mendesak federasi dan klub-klub untuk melakukan reformasi nyata, bukan sekadar bereaksi saat tim nasional menelan kegagalan. Pengalaman pahitnya saat melatih Timnas Italia di masa lalu menjadi dasar kritiknya.
“Setelah tiga kali gagal ke Piala Dunia berturut-turut, sesuatu yang serius harus dilakukan. Saat saya menjadi pelatih kepala dulu, ada banyak wacana, tetapi saya mendapat sangat sedikit bantuan dari klub-klub. Kita semua peduli dengan tim nasional, dan sesuatu harus segera dilakukan,” pungkas Conte tegas. (Rio)
