Jumat, April 10, 2026

China Tutup Penerbangan 40 Hari, Pemerintah Andalkan Pergerakan Pasar Domestik

Jakarta, Demokratis

China menutup wilayah udaranya selama 40 hari ke depan. Kebijakan tersebut tentu berdampak pada sektor pariwisata dan transportasi, termasuk di Indonesia. Pemerintah pun mulai mengantisipasi potensi penurunan wisatawan mancanegara dengan mengandalkan pergerakan pasar domestik.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan kebijakan yang diambil China merupakan bagian dari dinamika global yang tidak bisa diintervensi oleh Indonesia. Setiap negara, kata dia, memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan kebijakan penerbangan.

Lebih lanjut, Dudy bilang penutupan ruang udara China ini tentunya akan berdampak pada beberapa hal, termasuk juga kunjungan wisatawan ke Indonesia.

“Ya kita serahkan kepada kebijakan. Kan kondisi masing-masing negara itu kan berbeda. Sebagaimana kemarin disampaikan bahwa kondisi kita kan lebih baik dari negara-negara lain. Jadi pasti tentunya ada akan dampak misalnya turisme dan segala macam itu akan berkurang,” ujar Dudy kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).

Menurut Dudy, pembatasan penerbangan yang dilakukan sejumlah negara perlu dipahami, terutama karena dipicu oleh kenaikan harga avtur yang terjadi secara global. Pemerintah pun tidak bisa melarang negara lain untuk mengurangi frekuensi penerbangan mereka.

“Kita juga tidak bisa melarang negara lain untuk mengurangi penerbangan. Dan sebenarnya karena kondisi mereka juga harus kita maklumi. Kondisi kenaikan harga avtur ini kan sifatnya global,” katanya.

Meski berpotensi menekan arus wisatawan asing, pemerintah berupaya menjaga mobilitas masyarakat dalam negeri agar tetap berjalan. Salah satunya dengan memastikan kenaikan harga tiket pesawat domestik tidak terlalu tinggi.

“Kita berharap ini bisa selesai. Bahwa akan berpengaruh ya. Itu sebabnya kita berupaya untuk menjaga supaya kenaikan domestik ini tidak terlalu tinggi. Sehingga masyarakat kita masih bisa berpergian,” jelasnya.

Menurut Dudy, pasar domestik menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan sektor pariwisata nasional, terutama saat terjadi tekanan dari faktor eksternal.

Contohnya, sambung Dudy, pengalaman saat krisis maupun pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa wisatawan dalam negeri mampu menjadi penopang utama industri.

“Sama ketika dulu terjadi krisis maupun COVID, pasar dalam negeri inilah yang menjadi bantalan pariwisata kita. Jadi kita menjaga sedemikian rupa supaya masyarakat Indonesia masih berpergian. Karena kita juga mengantisipasi kalau terjadinya pengurangan arus wisata dari mana-mana,” ujarnya. (EKB)

Related Articles

Latest Articles