Jumat, Maret 27, 2026

Dari Tradisi Mudik Idul Fitri

Oleh M. Khoiron

Seperti kita ketahui,  Idul Fitri (Lebaran) di kita selalu dibarengi dengan tradisi Mudik atau PULANG Kampung. Entah ini bisa disebut local wisdom atau national wisdom, atau bahkan religius wisdom (ritual religius), penulis tak yakin persisnya?!

Yang jelas, orang atau masyarakat sampai rela “berjuang” untuk bisa PULANG Kampung, baik yang puasa (merayakan kemenangan), maupun yang tidak puasa, atau bahkan yang non muslim serta yang “Atheis” sekalipun.

Ada yang rela jalan kaki sambil dorong gerobak roda tiga, ada yang rela sambil ngayuh becak, serta sampai memburu tiket berapapun nominal harganya. Bahkan (semoga arwahnya ditempatkan di sisinya yang Mulia) sampai bertaruh nyawa. Hanya untuk Mudik, hanya untuk PULANG (kampung).

Dari fenomena tersebut, seperti menegaskan, bahwa, PULANG itu, sejatinya adalah “Fitrah”. Siapapun itu, “Ibarat “sejauh bangau terbang” maka ia tetap punya hasrat untuk “kembali ke kandang”, alias PULANG.

Penulispun selalu rindu dan “memaksakan diri” untuk PULANG kampung setiap kali Idul Fitri.

Dari ritual PULANG Kampung itu, penulis dapat memaknai sbb.:

Pulang Kampung hakekatnya adalah agar kita tidak lupa untuk PULANG, yang bisa penulis maknai:

1). Agar kita tidak lupa asal usul/ sejarah hidup kita (baca : kacang ojo lali kulite). Sejauh apapun kita pergi jangan lupa untuk pulang.

2). Kita harus “Mau Pulang”. Jika kita sempat sebelumnya “Melenceng”, kita harus mau  kembali ke “jalan  lurus”. Harus selalu berusaha untuk pulang /kembali ke jalan yg lurus. ke  fitrah kita. Sejauh apa kita melenceng, tak masalah, yang penting mau benar-benar untuk PULANG ke “Jalan yang lurus”.

3). PULANG yang hakiki, adalah pulang ke hadirat Allah SWT. Suka tidak suka, mau ataupun kita tidak mau, namun tak kan bisa menolak. Akhirnya kita harus PULANG ke Sang Khaliq.

PULANG adalah fitrah, maka tak terlalu salah jika masyarakat kita menyandingkan “religius wisdom” ini dengan Idul Fitri.

Dengan PULANG, kita bisa sejenak berrefleksi akan pengaktualisasian diri kita. Dengan PULANG seakan kita merestart kembali hasrat-hasrat kita yang kerap kali sulit untuk kita kuasai.

Dengan PULANG kita tak kan lagi merasa bisa “kemlinthi” (Jawa : angkuh, sombong) Allahu alam bishawab.

Penulis adalah Humas SMKN 1 Cibadak

Related Articles

Latest Articles