Teheran, Demokratis
Iran mulai mengizinkan kapal yang menuju pelabuhan-pelabuhannya melintasi Selat Hormuz. Sejumlah kapal berbendera asing juga disebut mendapat izin melintas. Namun, jalur pelayaran penting itu masih dikendalikan ketat oleh Teheran dan arus kapal belum kembali normal.
Kantor Berita Tasnim pada Sabtu mengutip surat yang menyebut kapal tujuan pelabuhan Iran, termasuk yang berada di Teluk Oman, wajib berkoordinasi dengan otoritas terkait dan mematuhi protokol yang ditetapkan untuk melintasi selat itu.
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.
Di tengah pembatasan itu, sejumlah kapal dari Turki, India, Prancis, dan Jepang dilaporkan berhasil melintas dengan aman.
Menteri Perhubungan Turki Abdulkadir Uraloglu mengatakan dua dari 15 kapal milik operator Turki yang menunggu sejak perang pecah sudah berhasil melewati Selat Hormuz.
Pemerintah India juga menyatakan kapal tanker LPG Green Sanvi telah melintasi selat itu dengan aman sambil membawa 46.650 metrik ton LPG dan 25 awak. India menyebut 17 kapal berbendera India dengan 460 pelaut India masih berada di kawasan Teluk Arab bagian barat.
Data pelacakan maritim menunjukkan kapal Prancis dan Jepang juga termasuk di antara sedikit kapal yang berhasil melintas. Kapal Kribi berbendera Malta milik grup pelayaran Prancis CMA CGM tercatat keluar dari Teluk melalui jalur yang disetujui Iran di wilayah perairannya. Lloyd’s List menjuluki jalur itu sebagai “Tehran Toll Booth.”
Selain itu, tiga kapal tanker, termasuk satu yang dimiliki bersama perusahaan Jepang Mitsui O.S.K., melintasi Hormuz melalui jalur alternatif di selatan, dekat pesisir Semenanjung Musandam, Oman. Kapal Sohar LNG menjadi kapal Jepang pertama yang keluar dari kawasan Teluk sejak perang dimulai.
Meski ada kapal yang berhasil melintas, lalu lintas di Selat Hormuz turun tajam. Menurut data Kpler yang dikutip dari Arab News menyebut, hingga Jumat pagi, sejak 1 Maret hanya 221 kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur itu. Dalam kondisi normal, jumlah pelayaran di perairan yang sama bisa mencapai sekitar 120 per hari, menurut Lloyd’s List.
Dari kapal-kapal yang melintas, 60 persen berasal dari Iran atau menuju Iran. Dari 118 pelayaran kapal bermuatan, 37 di antaranya keluar dari Teluk sambil membawa minyak mentah. Sebanyak 30 kapal tanker itu berasal dari Iran atau berbendera Iran.
Mayoritas kapal yang membawa minyak Iran juga tidak mencantumkan tujuan akhir di transponder. Dari kapal yang mencantumkan tujuan, semuanya kecuali satu menyatakan menuju China. Pada hari-hari awal perang, puluhan kapal bahkan menyiarkan pesan seperti “Chinese crew” atau “Chinese owner”, yang diduga sebagai upaya menghindari sasaran Iran. (IB)
