Padangsidimpuan, Demokratis
Keterlambatan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tujuh SPBU dari delapan SPBU di Kota Padangsidimpuan yang satu SPBU masih baru selesai dibangun dan belum beroperasi di Jln Jend. Abd haris Nasution (Jln. By Pass/Jln. Lingkar Timur) mengakibatkan kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax, dan Bio Solar sudah berlangsung Senin (26/1/2026) hingga Sabtu (31/1/2026).
“Kelangkaan BBM termasuk yang terjadi di SPBU swasta maupun bersubsidi, terbukti menjadi pemicu utama ekonomi lemah dengan menciptakan efek domino pada berbagai sektor. Kelangkaan ini meningkatkan biaya logistik, memicu inflasi, dan mengurangi daya beli masyarakat secara keseluruhan,” terang Uba Nauli R. Hsb, SH selaku Ketua NGO Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) di Pusat Pasar Sangkumpal Bonang, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Uba, kelangkaan BBM yang membuat antrean panjang hingga 0,5 km kenderaan angkot, mobil pribadi, sepeda motor dan travel membuat harga BBM di pengecer menjadi melonjak naik dari harga Rp18.000 hingga Rp25.000 per satu liter jenis Pertalite.
“Sehingga apabila pihak Pertamina dan/atau instansi terkait tidak segera memperbaiki distribusi, menambah kuota impor dan/atau dapat menetralkan pasokan BBM, maka jelas perekonomian rakyat bisa anjlok, pedagang sayuran dan kebutuhan sehari-hari bisa turun drastis, bahkan akan berakibat banyaknya pengangguran, sehingga akan memicu meningkatnya kriminalitas,” terang Uba Nauli.

Berikut dampak kelangkaan BBM terhadap melemahnya perekonomian:
- Peningkatan Inflasi dan Harga Pokok : Kelangkaan BBM memicu kenaikan harga barang dan jasa, yang secara langsung meningkatkan laju inflasi. Biaya operasional dan logistik yang membengkak memaksa produsen menaikkan harga jual produk.
- Penurunan Daya Beli Masyarakat : Akibat kenaikan harga barang, daya beli masyarakat menurun, yang membuat perputaran uang di masyarakat melambat dan perekonomian terhambat.
- Gangguan Aktivitas Ekonomi Harian : Antrean panjang kendaraan di SPBU akibat kelangkaan menghambat mobilitas dan produktivitas masyarakat.
- Dampak pada Sektor Produksi dan UMKM : UMKM dan industri mengalami peningkatan ongkos produksi yang signifikan, memaksa mereka memutar otak untuk bertahan, atau bahkan mengurangi operasional.
- Risiko Pengurangan Karyawan (PHK) : Kelangkaan BBM di SPBU swasta sejak akhir Agustus 2025 memicu kekosongan stok yang berlarut-larut, bahkan berdampak pada pengurangan karyawan hingga PHK.
- Gangguan Investasi : Jika kelangkaan BBM, khususnya di SPBU swasta, berlanjut, iklim investasi di Indonesia berpotensi memburuk.
Pantauan Demokratis di Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatera Utara, bahwa ada beberapa penarik becak bermotor terpaksa berhenti atau tidak beroperasi karena kelangkaan BBM Peratalite tersebut.
“Saya yang berusaha sebagai penarik becak bermotor terpaksa tidak berani berusaha, karena BBM di tangki becak tidak cukup, sementara kita butuh makan, bagaimana ini?” kata Harahap.
Hal senada diungkapkan salah seorang petani sayur-sayuran di Tantom Angkola. “Kalau begini terjadi seminggu ke depan, rakyat bisa rebut, dan bisa saja akan berbuat tindak pidana seperti penjarahan seperti yang terjadi kelangkaan BBM di waktu bencana di November 2025 lalu di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah yang sempat viral,” tegas Hutagalung. (Abdullah Taufieq)
