Rabu, Januari 14, 2026

Korban Tewas Kerusuhan di Iran Capai 2.000 Orang

Tehran, Demokratis

Sedikitnya 2.000 orang tewas, termasuk personel keamanan, dalam protes yang berkembang menjadi kerusuhan di Iran. Demikian dikatakan seorang pejabat pada hari Selasa, pertama kalinya otoritas mengakui jumlah korban tewas selama dua minggu protes nasional.

Pejabat Iran tersebut, berbicara kepada Reuters, mengatakan apa yang disebutnya teroris berada di balik kematian para demonstran dan personel keamanan, kendati tidak memberikan rincian siapa saja yang tewas, seperti dikutip Rabu (14/1).

Diketahui, protes meletus pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran terkait depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi, yang kemudian menyebar ke beberapa kota.

Pada 30 Desember, mahasiswa bergabung dalam kerusuhan. Kerusuhan menyebar ke sebagian besar kota besar.

Protes mencapai puncaknya pada malam 8 Januari, ketika setidaknya 13 warga sipil, termasuk seorang anak, tewas akibat tindakan para perusuh. Pihak berwenang melaporkan kematian 38 petugas penegak hukum.

Wali Kota Tehran, Alireza Zakani, menyatakan para perusuh membakar 25 masjid, merusak 26 bank, tiga pusat kesehatan, 10 gedung pemerintahan, lebih dari 100 truk pemadam kebakaran, bus, dan ambulans, serta 24 apartemen.

Kerusuhan, yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang buruk, telah menjadi tantangan internal terbesar bagi Pemerintah Iran setidaknya selama tiga tahun dan terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional setelah serangan Israel dan AS tahun lalu.

Pemerintah ulama Iran, yang berkuasa sejak Revolusi 1979, telah mencoba mengambil pendekatan ganda terhadap demonstrasi tersebut, menyebut protes atas masalah ekonomi sebagai hal yang sah sambil memberlakukan penindakan keamanan yang keras.

Mereka menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan dan mengatakan orang-orang yang tidak disebutkan namanya yang mereka sebut teroris telah membajak protes tersebut.

Sebuah kelompok hak asasi manusia sebelumnya telah mengidentifikasi ratusan orang tewas dan mengatakan bahwa ribuan orang telah ditangkap.

Pembatasan komunikasi, termasuk pemadaman internet dalam beberapa hari terakhir, telah menghambat aliran informasi.

Video-video bentrokan malam hari antara demonstran dan pasukan keamanan selama seminggu terakhir, termasuk beberapa yang telah diverifikasi oleh Reuters, menunjukkan konfrontasi kekerasan dengan tembakan dan mobil serta bangunan yang terbakar. (IB)

Related Articles

Latest Articles