Washington, D.C., Demokratis
Seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran, Anadolu telah melacak puluhan jet dan pesawat militer yang menuju pangkalan AS di Timur Tengah.
Menurut laporan intelijen sumber terbuka, terdapat lebih dari 300 pesawat militer AS di wilayah tersebut, terutama tersebar di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, termasuk sayap udara kapal induk 8 dan 9 di atas kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.
Sementara itu, Gedung Putih mengatakan, Presiden Donald Trump memprioritaskan pendekatan diplomasi terhadap Iran tetapi tidak mengesampingkan tindakan militer jika diperlukan.
“Pilihan pertama Presiden Trump selalu diplomasi, tetapi seperti yang telah ia tunjukkan, ia bersedia menggunakan kekuatan mematikan militer Amerika Serikat jika perlu,” kata juru bicara Karoline Leavitt kepada wartawan.
Leavitt menunjuk pada Operasi Midnight Hammer yang “sangat sukses” pada Bulan Juni 2025, yang menurutnya telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, sambil memperingatkan bahwa ancaman tersebut belum sepenuhnya dihilangkan.
“Itu tidak berarti bahwa Iran tidak akan pernah mencoba lagi untuk membangun program nuklir yang dapat secara langsung mengancam Amerika Serikat, sekutu kita di luar negeri,” katanya, menambahkan bahwa mencegah skenario tersebut adalah fokus Trump.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS, yang dimediasi oleh Oman, yang dijadwalkan pada Hari Kamis di Jenewa, di mana Iran diharapkan akan menyampaikan rancangan proposal.
Sejak awal Januari, diperkirakan 270 penerbangan logistik C-17 dan C-5 ke Komando Pusat AS (CENTCOM) dibutuhkan untuk mengumpulkan angkatan udara ini, bersama dengan sistem pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Saat ini, diperkirakan 75 pesawat angkut strategis KC-46 dan KC-135 masih dikerahkan ke CENTCOM atau dalam jalur penerbangan ke wilayah tersebut.
Angkatan udara yang dikerahkan terdiri dari berbagai macam pesawat pendukung dan penyerang. Sekitar 84 jet F-18E/F, 36 jet F-15E, 48 jet F-16C/CJ/CM, dan 42 jet F-35A/C merupakan hampir 70% dari seluruh pesawat, sementara 30% sisanya terdiri dari pesawat tanker dan jet penyerang dalam peran khusus: 18 pesawat perang elektronik EA-18G “Growler”, 12 pesawat pendukung udara jarak dekat A-10C “Thunderbolt”, 5 pesawat E-11A Battlefield Airborne Communications Node (BACN), dan 6 pesawat E3 “Sentry” Airborne Warning and Control System (AWACS).
Kendati demikian, tidak ada pergerakan yang teramati dari pesawat pembom B-2 yang digunakan dalam Operasi Midnight Hammer Juni lalu.
Saat peningkatan kekuatan militer Washington menjadi sorotan, para analis mengatakan Israel mendorong agresi terhadap Iran dan dapat terlibat dalam serangan.
Armada pesawat tempur Israel terdiri dari 66 F-15I/C/D, 173 F-16I/C/D, dan 48 jet tempur F-35 yang lebih baru secara efektif menggandakan kekuatan udara gabungan pasukan yang dapat berpartisipasi dalam serangan terhadap Iran.
Pada Hari Selasa, Israel juga menerima 12 pesawat tempur siluman F-22 “Raptor” AS, yang paling canggih dalam persenjataan AS, yang dapat digunakan untuk “menembus wilayah musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara dan instalasi radar,” menurut penyiar publik Israel KAN.
Enam F-22 tambahan juga terlihat kemudian pada Hari itu berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Langley di AS, kemungkinan untuk bergabung dengan yang lain di Israel melalui RAF Lakenheath di Inggris. (IB)
