Sabtu, Mei 18, 2024

Lelaki yang Memakai Dua Kalung

PUKUL 10.00, ketika anak-anak sekolah berhamburan keluar dari dalam kelas untuk istirahat. Waktu yang selalu ditunggu, mereka akan mengguratkan senyum paling lebar. Sebagian dari mereka sibuk memilih jajanan, selebihnya memilih duduk-duduk di luar kelas. Begitu pun Luis, tukang pahat yang berada di halte seberang sekolah itu. Seperti biasa, Ia pun menunggu waktu istirahat tiba, lengkap dengan teh manis, ubi dan rokok di tangannya. Hal tersebut selalu Ia lakukan setiap hari, kecuali hari libur. Bukan tanpa sebab, riang anak-anak sekolah ketika waktu istirahat mengingatkannya pada Alfonso, putranya yang meninggal beberapa tahun silam. Ia melihat Alfonso dalam riang dan tawa anak-anak itu. Setidaknya hal tersebut bisa mengobati rasa rindunya kepada Alfonso, walau tidak seberapa.

Alfonso lahir ketika keadaan keluarga sedang tidak baik. Setelah memutuskan menikah, Luis muda masih kerja serabutan, mulai dari berdagang kayu, menjadi kuli sampai menjadi penganggur. Dimulai dengan berdagang kayu bakar yang Ia ambil dari hutan Selebas, Ia harus berjalan cukup jauh untuk sampai hutan tersebut, memilih-milih kayu, sebab kebanyakan konsumennya menolak jika kayu itu terlalu kecil, terlalu besar atau basah. Perjalanan berangkat dan pulang kurang lebih memakan waktu dua jam, belum lagi jika hujan, Ia harus meneduh terlebih dahulu. Seikat kayu hanya dihargai 5 peso, jumlah yang sangat kecil, sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keadaan yang sama pun terjadi ketika Ia menjadi kuli, Alfonso kecil tumbuh dengan serba kekurangan. Ibunya Maria, hanya buruh cuci. Keliling desa, mengunjungi rumah-rumah, menanyakan pakaian kotor, menawarkan jasa. Jika nasib sedang baik, Maria bisa mencuci baju dari dua sampai tiga kepala keluarga yang menyerahkan pakaian kotor kepadanya. Sebaliknya, jika keberuntungan tak berpihak kepada Maria, tak satu bakal cucian pun Ia dapat. Maria harus puas pulang dengan tangan kosong, kembali ke rumah merawat Alfonso kecil yang tak berdaya di tempat tidur.

Ketika masih di dalam kandungan, Alfonso jarang sekali mendapat asupan nutrisi atau pergi imunisasi. Maria hanya makan seadanya, jika tak ada yang bisa dimakan, Ia hanya minum air putih. Hingga akhirnya Alfonso lahir dan hal yang ditakutkan seluruh calon orang tua di seluruh dunia pun terjadi, Alfonso lahir berbeda dengan kebanyakan anak pada umumnya.

Sejak bayi hingga umurnya menginjak angka lima tahun, Alfonso tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Matanya buta, telinganya tuli, mulutnya tak bisa berbicara. Ia tak pernah melihat wajah kedua orang tuanya, mendengar suara orang tuanya dan berkomunikasi dengan orang tuanya. Hal tersebut membuat kesedihan selalu menyelimuti keluarga kecil yang kekurangan ini. Ada keniatan Maria dan Luis untuk membawa anaknya ke rumah sakit di kota namun penghasilan mereka kerja seharian pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi untuk membayar ongkos rumah sakit atau klinik. Belum lagi ongkos perjalanan dari daerahnya ke kota. Mengingat hal tersebut, mereka mengurungkan niat tersebut walau di relung hati paling dalam, mereka ingin melihat Alfonso tumbuh seperti kebanyakan anak pada umumnya, sekolah dan bermain dengan teman sebaya.

Puncak kesedihan pun terjadi dua tahun kemudian, Alfonso meninggal. Maria tak henti-hentinya menangisi anak semata wayangnya. Keadaan Alfonso sangat memprihatinkan, tubuhnya hanya tinggal tulang dan kulit. Dua hari sebelum Alfonso meninggal, Maria masih sempat memberinya minum, Maria menyuapinya dengan sendok, meski tak terlihat oleh Alfonso, Maria harus selalu tersenyum di depan anaknya. Maria percaya, walau pun mata Alfonso tak melihat senyumnya, Alfonso masih bisa melihat senyum tulus Maria di dalam mata hatinya. Ketika Maria memberi makan atau minum Ia selalu berdoa di dalam hati, apa pun yang masuk dalam mulut Alfonso bisa menjadi obat untuk kesembuhan putranya.

Besoknya, sehari sebelum Alfonso meninggal. Maria meminta Luis untuk menemaninya merawat Alfonso. Suhu badan Alfonso sangat tinggi hari itu, Maria dan Luis terus-menerus di sebelah Alfonso. Bergantian berjaga, bergantian mengompres kepala Alfonso dengan kain basah. Alfonso pun tak henti-hentinya menangis, Maria memeluk tubuh panas anaknya, mencoba merasakan sakit yang diderita anaknya hingga meneteskan air mata. Maria dirundung kesedihan. Jika bisa, mohon pindahkan sakit yang diderita Alfonso ke tubuhnya, Alfonso kecil tak kuat jika harus menanggung itu. Pelukan itu makin dalam, detak jantung Maria dan Alfonso bertemu, Ia merasakannya, merasa dekat sekali dengan anaknya malam itu. Belum terlepas pelukannya, Ia menimang-nimang Alfonso, menyanyikan lagu-lagu pengantar tidur ditelinga anaknya, walau Ia yakin Alfonso tak bisa mendengar satu nada pun dari mulutnya. Maria bernyanyi seharian, hingga larut malam berganti pagi.

“Cepat sembuh Alfonso, jangan menangis, malam sudah semakin gelap. Waktunya tidur anakku,” nyanyian Maria menggema dalam kamarnya disusul isak tangis yang belum berhenti.

Alfonso berhenti menangis, namun berhenti juga detak jantungnya. Maria kembali merasakannya, Ia sejenak menghentikan nyanyiannya, menatap Luis yang sedari tadi duduk di dalam ruangan yang sama. Masih dengan suasana yang sama, tangis Maria pecah pagi itu. Ia merasakan kesedihan yang sangat dalam dari hari-hari sebelumnya. Luis pun demikian, Ia mencium jasad Alfonso yang mungil seperti kecupan perpisahan dari seorang ayah yang gagal membuat anaknya tumbuh. Luis tak mengharapkan hal ini terjadi, Maria pun demikian. Untuk kesekian kalinya, kesedihan yang kuat menyelimuti keluarga kecil yang kekurangan itu.

Rasa cinta Maria kepada Alfonso berdampak panjang, hari-hari setelah Alfonso meninggalkannya, bayang-bayang Alfonso selalu ada di dalam pikiran dan matanya, entah di tempat tidur atau di ruangan lain. Jika sudah demikian, Maria hanya menangis, memeluk pakaian terakhir yang dikenakan anaknya. Walau pun setiap hari Ia mencuci banyak baju konsumennya, namun Ia tak pernah mencuci baju terakhir anaknya tersebut. Maria tak membiarkan aroma harum detergen menghapus aroma tubuh Alfonso. Tak jarang, Maria mencuci dengan keadaan menangis. Sepulang dari hutan mengambil kayu, pemandangan seperti itu selalu terjadi, ketika melihat hal itu, Luis suaminya mencoba menenangkan, Ia memeluk Maria, meyakinkannya bahwa Alfonso sudah berada di tempat yang paling harum, di Surga.

“Alfonso sudah riang di sana, berlari, tertawa dengan teman sebayanya”. Luis mencoba meyakinkan.

Luis masih menjadi pedagang kayu, namun akhir-akhir ini pendapatannya semakin menurun. Banyak konsumennya yang sudah berganti menjadi kompor gas, tidak memakai kayu lagi untuk memasak. Melihat hal itu, Ia hanya pasrah, Ia tak mungkin protes pada kemajuan zaman. Di hari yang sama, Ia pulang dengan membawa sisa kayu dagangannya, beristirahat sambil memainkan belati, mengukir nama “Alfonso” di kayu dagangannya. Hampir setiap hari Luis mengukir kayu-kayu dengan belati, masih dengan satu nama “Alfonso”. Luis terus berlatih, hingga akhirnya Ia bisa membuat nama “Alfonso” pada kayu, yang kemudian Ia jadikan kalung, Satu untuk Maria dan satu untuknya. Luis berharap, dengan begitu mereka selalu dekat dengan Alfonso, Alfonso selalu mendengar degup jantung mereka.

“Pakai kalung ini, nyawa Alfonso di dalamnya. Aku pun demikian”. Sembari memberikan kalungnya.

Hari-hari berikutnya, Luis semakin menggeluti profesi barunya sebagai tukang pahat, hasil pahatannya dari hari ke hari mengalami perkembangan yang pesat, Ia mulai membuat berbagai macam aksesoris dari pahatan kayu, orang-orang mulai banyak yang memesan untuk hiasan rumah. Maria pun masih menjadi buruh cuci. Mereka perlahan melupakan bayang-bayang Alfonso meski tak sepenuhnya. Maria mulai bisa tersenyum, Luis melihatnya sebagai hal yang jarang. Sebab beberapa tahun setelah Alfonso meninggal, kesedihan selalu menyelimuti wajah Maria, seperti kehilangan cahaya pada wajahnya. Matanya bengkak karena menangis. Tahun-tahun itu adalah tahun yang berat bagi mereka.

Belum juga menginjak dua tahun setelah mereka bersama melewati tahun-tahun penuh kesedihan itu, mereka kembali dirundung kesedihan, rumah dan tanah tempat mereka tinggal terlibat sengketa dengan pemerintah. Maria dan Luis tinggal di sebuah desa kecil yang hanya berjumlah sepuluh kepala keluarga, jarak dari satu rumah menuju rumah lainnya pun cukup jauh, dipisahkan sungai. Mereka memang menempati tanah pemerintah, namun sebagai warga negara, mereka punya hak untuk hidup dengan tempat tinggal yang layak.

Protes dilayangkan beberapa warga termasuk Maria dan Luis, mereka menolak meninggalkan tempat tinggalnya. Maria menjadi yang paling aktif menyuarakan penolakan, sebab jika tempat tinggalnya digusur, maka akan menggusur makam Alfonso pula. Makam Alfonso tepat di depan rumah mereka, hanya dipisahkan sungai kecil. Menurut kabar yang beredar, jika penggusuran itu berhasil dilakukan, maka tempat itu akan dibangun banyak gedung, mulai pusat perbelanjaan, sekolah atau kantor-kantor pemerintahan.

Maria, Luis dan beberapa warga lainnya masih terus menolak penggusuran, mereka terus berjaga secara bergantian, kemudian melakukan audiensi dengan pihak pemerintah dan pengelola. Mereka terus mempertahankan tempat tinggalnya, mempertahankan identitas dan harga dirinya sebagai warga-warga di pedalaman Meksiko. Namun, kemenangan selalu berpihak kepada penguasa dan pengusaha nampaknya, mereka kalah. Tapi mereka menuntut satu, sisakan satu petak hutan untuk tempat tinggal kami yang tak seberapa, kami berhak hidup, mempertahankan identitas dan harga diri kami. Pihak pemerintah dan pengelola menyetujui, sekaligus menjadi hutan kota pikirnya.

Hidup di hutan membuat Maria sulit melakukan banyak hal, termasuk mencuci. Maria mulai banyak mengeluh, Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, bintik merah di seluruh badannya, Maria terkena malaria. Malamnya Maria demam, suhu tubuhnya naik dan badannya sangat lemas. Luis panik, Ia langsung teringat suasana yang sama beberapa tahun yang lalu, suasana di salah satu ruangan dengan Maria dan si kecil Alfonso.

Luis memeluk Maria, Ia percaya untuk saat ini, dengan keadaan seperti ini, obat terbaik adalah pelukan. Pelukan adalah bukti cinta yang tulus. Mereka berdua tidur dengan keadaan sambil memeluk, ketika pagi sudah datang dan semburat cahaya menyilaukan mata Luis, Ia terperanjat dan mendadak bangun. Namun tidak dengan Maria, Ia tak pernah bangun untuk hari ini, besok atau seterusnya. Maria tak bisa melihat matahari pagi ini, namun Luis yakin matahari di dalam matanya jauh lebih terang dan hangat.

Luis menolak jasad Maria dikubur. Sebab menurutnya, biar mereka—penguasa dan pengusaha—saja yang mengotori bumi, kita jangan. Luis juga menolak membakar jasad Maria, sebab itu akan mengotori api. Luis meletakkan jasad Maria di atas gubugnya, menjadi makanan burung gagak dan hewan lainnya, sampai jadi tulang belulang lalu kemudian menghilang.

Beberapa hari kemudian, jasad Maria mulai membusuk, aromanya mulai mengundang kawanan burung gagak. Untuk hal ini, Maria tak membutuhkan detergen. Luis menyaksikan kejadian itu, air matanya menetes untuk kesekian kalinya.

Tak mau kesedihan terus menghantuinya, Luis mulai menyibukkan diri dengan mencari kayu sebanyak-banyaknya dan memahat sebanyak-banyaknya. Pada kayu pertama, Ia memotong kayu ukuran kecil menjadi beberapa bagian, mulai mengukir dan kemudian nama “Maria” terpahat di dalamnya. Hal tersebut Ia lakukan terus-menerus, hingga banyak pahatan “Maria” di sekitarnya. Kemudian, hingga akhirnya Luis menyerah pada keadaan yang memaksa Ia mengingat Maria.

Luis mengambil satu pahatan dan menjadikannya kalung yang kedua di dada, setelah kalung Alfonso.

Sementara pembangunan yang dilakukan pemerintah di tanah bekas tempat tinggalnya mengalami perkembangan yang pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa gedung sudah berdiri, mulai dari pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan dan juga sekolah. Luis takjub sekaligus terpukau, keadaan sekarang berbeda dengan dulu ketika Ia masih menempati tempat ini. Rumahnya dahulu kini sudah dibangun halte dan toko kemudian tepat di depannya dibangun Sekolah Dasar, dimana makam Alfonso berada. Meskipun demikian, Ia tak pernah terpikir untuk hidup di kota dan meninggalkan hutan.

Luis tetap tinggal di hutan, menemani Maria dan menuju kota pada pukul 10.00 untuk melihat senyum dan tawa Alfonso. Di lehernya melingkar dua kalung dan dua nyawa, hal tersebut yang membuatnya tetap merasa dekat dengan Maria dan Alfonso. Mungkin dengan dua tangannya, Ia bisa mengukir ribuan nama dengan ribuan kayu, namun hanya dengan satu cinta yang tulus, Ia hanya bisa mengukir sebuah nama di dalam hati. ***

Penulis adalah Muhamad Trianto—Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Wiralodra. Menulis Puisi dan Cerpen. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak dan elektronik. e-mail: muhamadtrianto666@gmail.com

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles