Home Mengaji Pandemi (Corona) Pada Ibnu Sina

Mengaji Pandemi (Corona) Pada Ibnu Sina

Oleh O’ushj.dialambaqa*)

 Ibnu Sina, lengkapnya Abu Ali Husain Ibn Sina, lahir pada 980 M  di Afshana, dekat Bukhara-Uzbekistan (Negeri Baltik yang kini memisahkan diri (deklarasi kemerdekaan, 31/8/1991, dan hari kemerdekaannya 1 September) dari Negara Komunis Uni Sovyet-Rusia pada era Presdien Rusia Gorbacev setelah meninggalnya  Presiden Bresnev. Ibnu Sina wafat pada 1037 M/428 H, dimakamkan di Hamadan-Emirat Kakuyit-Iran-Persia. Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avecenna (Spanyol Aven Sina), dan di dunia Islam dikenal dengan nama Al-Syaikh al-Rais, Sharaf al-Mulk, Hujjat al-Rayees, Ibn-Sino (Abu Ali Abdulloh (Ibn-Sino), Bu Ali Sino.

Ibnu Sina adalah Bapak Kedokteran Pertama, tidak saja tersohor sebagai dokter dan ilmwan multi disiplin ilmu dengan keginiusan otodidaknya dalam bidang matematika, fisika, logika, kosmologi, dan bahkan sebagai seorang Filsuf (Filosof) muslim terkemuka dan Penyair, tetapi juga sebagai Psikolog dan dokter ahli jiwa yang dikenal dengan psikoterapinya.

Al-Qanun fi at-Tibb ( (The Qanun of Medicine) adalah buku Kaidah Kedokteran yang ditulis secara sistematis, yang dijadikan buku wajib (taxbook) di Universitas Montpellier-Perancis dan Universitas Lourain-Belgia. Dalam bidang meteria medeica menemukan bahan baru Zanthoxyllum Budrunga, sejenis tumbuhan untuk penyembuhan penyakit miningitis (radang selaput otak). Ibnu Sina, orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Ibnu Sinalah yang pertama mengatakan bahwa bayi selama dalam kandungan mengambil makananya dengan tali pusarnya. Tidak hanya itu, ia mempraktekkan pembedahan penyakit bengkak yang ganas dan menjahitnya.

Ibnu Sina, tidak saja melahirkan karya monumental dalam buku kedokteran. Diluar kedokteran juga lahir karya monumentalnya, As-Shifa (Pengobatan atau Penyembuhan Kedunguan Jiwa), ditulis pada usia 22 tahun  dan pada usia 16 tahun telah menjadi dokter.  As-Shifa terdiri dari 18 jilid, yang dikenal dalam bahasa Latin  dengan nama Sanatio (Sufficienta), naskah lengkapnya tersimpan di Oxford University London.

As-Shifa terbagi dalam 4 bab, yaitu 1.1. Logika, didalamnya termasuk terorika dan syair, meliputi dasar karangan Aristoteles mengenai logika, dan materi dari penulis-penulis Yunani. 1.2. Fisika, meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran, didalamnya termasuk psikologi, pertanian dan hewan. 1.3. Metematika, bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen-elemen Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, ikhtisar tentang aritmatika dan ilmu musik. 1.4. Metafisika, bagian falsafah, alam pikir Ibnu Sina menggabungkan alam pikir Aristoteles dengan elemen-elemen Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yanani dengan kepercayaan-kepercayaan.  2. Nafat, ringkasan dari As-Shifa. 3. Al Qanun fi at-Tibb, buku kaidah ilmu kedokteran. 4. Sadidiyya, buku ilmu kedokteran. 5. Al-Musiqa, tentang musik. 6. Al-Mantiq, buku yang diperuntukkan kepada Abu Hasan Sahli. 7. Qamus el Arabi, buku 5 jilid. 8. Danesh Namesh, mengenai filsafat. 9. Uyun-ul Hikmah, buku filsafat 10 jilid. 10. Mijiz, kabir wa shaghir, tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap. 11. Hikmah el Masyriqiyyin, filsafat Timur Tengah. 12. Al-Inshaf, tentang Keadilan. 13. Al-Hudud, pengertian-pengertian tentang filsafat. 14. Al-Isyarat wat Tanbiehat, tentang dalil-dalil dan peringatan-peringatan mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.  15. An-Najah, tentang Kebahagiaan Jiwa.

Imam al-Ghazali (kelahiran Thus-Khurasan- Irak  pada 450 M) mengkritik tajam dan pedas dalam bukunya Tahafut Al-Falasifah yang olehnya dikatakan membongkar kerancuan para filosof dalam mencari kebenaran, dan dikatakannya bahwa sumber kekafiran pada dasarnya adalah kekaguman mereka (Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Khindi, Al-Razi, Al-Buruni, Al-Masihi dan Abul Hasan Hankiri)  terhadap nama-nama besar seperti Socrates, Hippocrates, Plato, Aristoteles dan Galen, tetapi oleh Abu Bakr Ar-Razi (Pemikir Bebas Islam yang lahir di Rayy, 850 M/251 H, filsuf dan praktisi Kimia) dikatakan Al Ghazali melakukan tudingan yang keliru karena pembacaan atas Aristoteles hanya dengan melakukan pembacaan atas Ibnu Sina dan Al Farabi.

Dalam tulisan ini, kita tidak  memperbincangkan perdebatan sengit dalam dialektika intelektual Ibnu Sina mengenai teologi. Kita hanya mengaji pada bab Pandemi yang disebut-sebut serupa Corona-Covid-19, dimana Ibnu Sina sebagai seorang dokter berhadapan dengan benaca wabah pandemi yang menakutkan dan sangat dahsyat. Di sinilah yang hendak kita mau mengaji dan mengkajinya.

 

Tindakan Medis Ibnu Sina

Sina dalam melihat dan membaca bencana wabah pandemi yang sangat mengharu biru dirinya karena telah sedemikian banyak merenggut nyawa. Bertolak dari prinsip disiplin  ilmu kedokterannya melakukan analisis pandemi dengan logika dan akal warasnya yang dikombinasikan dengan tindakan psikoterapi  sebagai seorang ahli jiwa untuk mempercepat penyembuhannya. Tetapi sebagai seorang filosof dan teolog tindakan penangan medis yang dilakukannya tidak bisa terpisahkan dari pemahaman teologinya tentang “takdir”, “qodho dan qodar” sehingga  Sina menggunakan 3 (tiga) pendekatan atau cara, yaitu, medis, psikoterapi dan pembebasan doktrin (agama).

Tindakan medik, bertumpu pada dunia kedokterannya, yaitu dengan obat-obatan farmasi dan atau jenis herbal setelah dilakukan uji klinis, paling tidak, dikuatkan dengan argumentasi mediknya, salah satunya adalah pemakaian (air) cuka. Mengapa Sina menggunakan cuka, karena cuka (dengan proses fermentasi) mengandung alkohol, dimana alkohol sangat efektif untuk membunuh kuman, bakteri, virus dan sejenisnya. Sina menganjurkan cuka dicampur dengan air untuk mencuci tangan dan berkumur sebagai antiseptik, karena kuman, bakteri atau virus bisa menyebar penularannya sekalipun tidak melalui kontak langsung,  melalui perantara media seperti logam, kain, kayu, udara dan lainnya.

Ada 15 jenis cuka dengan bahan dasar yang berbeda, tetapi dengan proses fermentasi tetap akan menghasilkan atau mengandung alkohol dalam cuka, yaitu: Wine Vinegar (dari anggur), Malt Vinegar (dari gandum), White Wine Vinegar (dari biji-bijian atau jagung), Balsamic Vinegar (dari anggur putih varietas trabbiona), Apple Cider Vinegar (dari sari buah apel), Fruit Vinegar (dari macam-macam buah yang mengandung gula tinggi), Cuka Kesemek (dari buah kesemek), Rice Vinegar (dari beras), Palm Vinegar (dari getah buah nipa muda), Coconut Vinegar (dari air kelapa), Cane Vinegar (dari gula tebu), Chinese Black Vinegar (dari beras, gandum, molet, sorgum), Beer Vinegar (cuka bir) dan Destilled Vinegar (cuka distilasi).

Sina dengan analisis medik, logika dan akal rawasnya yang terukur, mengambil tindakan yang harus dilakukan bersamaan dengan tindakan pengobatan medik yaitu dengan  upaya pencegahan dan atau penghambatan penyebarannya atas wabah pendemi tersebut dengan melakukan advokasi turun tangan langsung bersama pemerintah menjelaskan tindakan lockdown, social distancing, physical distancing  dan social no panic kepada masyarakatnya. Melarang berada dalam keramaian orang seperti di pasar, pertemuan massal dan bahkan sampai pada persoalan ibadah.

Sosialisasi bahkan dilakukan dari pintu ke pintu demi untuk menyelamatkan nyawa umat manusia. Himbuan dengan spanduk dan himbauan-himbauan dari menara gading tidak cukup untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dan hasilnya tidak akan optimal, semua itu harus bertarung dengan waktu, adu cepat untuk menghentikan wabah pendemi yang disebut-sebut seperti corona atau covid-19 seperti pandemi sekarang ini.

Lockdown, social distancing dan physical distancing serta social no panic itulah yang bisa mempercepat keberhasilan keluar dari bencana wabah pandemi, karena sangatlah kecil kemungkinannya jika hanya mengandalkan pengobatan secara medis dimana waktu itu belum diketemukan obat-obatan yang benar-benar bisa untuk melawan wabah pendemi, yang mungkin sama halnya dengan wabah pandemi covid-19 sekarang ini yang belum sempat diketemukan obatnya, sehingga lockdown, social distansing,  physical distancing dan social no panic lebih sebagai kuncinya. Tentu,  akan berbeda jika sudah diketemukan obatnya secara pasti. Antisipasinya tidak lagi bertumpu pada lockdown, social distancing, physical distancing dan social no panic, tetapi cukup dianjurkan minum obat untuk merangsang antibodinya mengimunitaskan tubuh untuk melawan serangan pademi yang belum sempat bersemayam dalam tubuh.

 

Psikoterapi Ibnu Sina

Logika Sina sebagai seorang medis, ilmuwan, psikolog, teolog dan filsuf tidak mau terkubur begitu saja apalagi mau ditenggelamkan oleh doktrin teologi yang pada era itu sangat kuat pengaruhnya bahwa semua itu adalah takdir Tuhan dan atas ijin Tuhan pendemi itu datang, ajal menjemput kematian adalah sudah kehendak Tuhan, pandemi (corona) itu sudah menjadi takdir (ketetapan atau ketentuan)Tuhan yang telah tertulis sejak di Lauh Mahfudz, semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak dan ijin Tuhan, sehingga kita pasrahkan saja semua kepada Tuhan. Semua itu urusan Tuhan atas makhluknya.

Sina keluar dari pemahaman di depan atas pembacaan takdir, qodho dan qodar, qudrot (berkuasa) dan irodat (berkehendak). Sebagai ahli jiwa dan ahli logika yang didasari dengan kaca mata kefilsufannya atas pemahaman teologinya, Sina kemudian menerapkan metode psikoterapi dengan memberikan penjelasan dan pamahaman akan harapan hidup atau untuk  mampu melawan penyakit dengan sikap dan tindakan social no panic atas  penyakit yang bersemayam  di tubuhnya, dan dengan do’a, dimana do’a merupakan kebutuhan akan hidup dan dalam kehidupan manusia.

“Janganlah kalian terlalu takut pada virus, stay at home dan bersenang-senanglah  karena virus akan lari ketika melihat kalian bahagia. Dan ketahuilah wahai manusia, satu orang sakit bisa menularkan kepada ratusan  orang yang sehat. Tinggalkanlah masjid (untuk sementara), stay at home (jangan berada di tempat keramaian seperti pasar) dan beribadahlah di rumah masing-masing apabila ingin terjauh dari wabah.” (Ibnu Sina dalam Dr. H. Arip Rahman, LC: Teori dan Praktik Ibnu Sina Hadapi Covid-19).

Sina sebagai seorang medis dan psikolog memahami betul bahwa kepanikan akan membuat daya imunitas tubuh dan atau antibodi akan menurun atau akan melemah, dan tentu akan menjadi rentan terhadap serangan pandemi. Psikoterapi yang diterapkan Sina merupakan perpaduan teoritik medis dengan psikologi.

Spirit untuk tetap ingin hidup akan mampu memenangkan pertarungan melawan penyakit yang bersemayam, kata Chairil Anwar: Aku Ingin Hidup seribu Tahun Lagi, sehingga manusia tidak terbelenggu oleh pandangannya sendiri untuk bisa berbuat banyak, berbuat  sesuatu sebagai ikhtiar, dan itu tidak bisa kita pahami sebagai kehendak bebas manusia melampaui Tuhan.

Kepanikan (ke-was-was-an) yang belebihan juga bisa sebagai penyebab yang mengakibatkan tindakan seseorang menjadi tidak terkendali, dan secara psikologis juga bisa memicu melemahnya daya tahan tubuh untuk melawan penyakit. Kepanikan yang berlebihan atau yang tak terkendalikan bisa mengakibatkan tindakan panic baying, dan jika itu terjadi akan menjadi masalah sosial baru yang bersamaan dengan persoalan pandemi yang hendak kita hentikan penyebarannya.

Setiap orang karena adanya kepanikan yang berlebihan  lantas mengambil tindakan atas persepsi dirinya, dimana persepsi dirinya seringkali tidak terkendalikan, yang kata Steven Taylor (psikolog klinis) dari University of  British Columbia yang juga penulis buku The Psychology of Pandemic mengatakan, “bahwa panic buying didorong oleh ketakutan dan keinginan untuk berusaha keras memadamkan ketakutan itu sendiri, seperti rela berjam-jam antrian atau membeli jauh lebih banyak dari yang dibutuhkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang merasa perlu melakukan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka anggap sebagai  tingkat krisis.”

Tindakan tersebut bisa memicu masalah baru sebagai penyebab masalah sosial bagi sesamanya karena daya dukung ekonomi masing-masing orang berbeda, sedangkan pemenuhan akan ketersediaan barang-barang kebutuhan akan menjadi sulit, sangat terbatas bahkan bisa menjadi  langka  oleh sebab adanya tindakan panic buying dalam menghadapi bencana wabah pandemik. Hal yang seperti itu  jangan sampai terjadi. Oleh karenanya, perlu kehadiran Negara untuk menjelaskan ketercukupan akan ketersediaan kebutuhan selama kita melakukan social distancing, physical distancing dan lainnya dalam situasi bencana wabah pandemi-corona. Di sinilah publik trust pemerintah dipertaruhkan untuk menjawab kehadiran atas Negara.

 

Pembebasan Doktrin

Doktrin teologi yang sangat kuat (fatalisme) pengaruhnya pada masa itu, dan bahkan hingga kini, bahwa semua itu atas ijin Tuhan (Allah SWT), atas kehendak Tuhan, begitu juga kematian karena pademi itu semua atas takdir Tuhan. Tentu, tidak sejalan dengan pandangan dan pemahaman Sina sebagai seorang ilmuwan dan filosof.  Tidak semua urusan duniawi menjadi  tanggungjawab sepenuhnya Tuhan,  semua urusannya dipasrahkan pada Tuhan.  Padahal,  justru lebih banyak urusan duniawi menjadi urusan dan tanggungjawab manusia itu sendiri sebagai khalifatullah fil ardh. Tanggungjawab atas kekhalifahan itulah menjadikan urusan duniawi menjadi urusan manusia itu sendiri, apakah kita mau memilih jalan sesat atau jalan yang shiratholmustaqiem.

Pandangan dan pemahaman keagamaan seperti dimuka sebagai dokrin teologi menjadi ancaman terhadap (ilmu) pengetahuan, dimana ilmu pengetahuan harus menyangsikan (meragukan) atas semua fakta, data dan informasi, karena tugas ilmu pengetahuan adalah untuk menguji kebenaran atas semua fakta, data dan informasi yang ada. Doktrin teologis seperti itu akan menguburkan dunia kedokteran (medis) dan atau semua ilmu pengetahuan yang Tuhan telah ajarkan sejak Adam dan Hawa terusir dari surga untuk bisa kembali ke surga. Iqro mengharuskan kita untuk membaca tanda dan penanda atas semua fenomena alam yang terjadi bahkan yang akan terjadi masa datang akibat manusia itu sendiri.

Ilmu pengetahuan tidak mengajarkan kepastian, ilmu melatih akal budi untuk berani menyangsikan. Ilmu pengetahuan mempelajari realitas yang cakupannya cukup terbatas bila dibandingkan dengan realitas metafisis dalam refleksi filosofis dan realitas adiduniawi yang melandasi keyakinan religius dan kepercayaan mistis.  Batas pengetahuan ilmiah cukup tegas, pertanyaan-pertanyaan ilmiah bukan saja mensyaratkan  pengujian empiris (minimal secara prinsip), melainkan juga perlu berada dalam realitas berbingkai ruang-waktu. Ilmu pengetahuan menelaah gejala di dunia ini dan mencari penjelasannya dalam proses dan mekanisme dunia. Batas ini sering menimbulkan salah paham, seakan-akan ilmuwan tidak mengakui realitas metafisis (religius atau bukan) dan kepercayaan akan yang transenden, adiduniawi/adialamiah (supernatural). Dalam kegiatan ilmiah, batas antara pernyataan tentang dunia dan adiduniawi bersifat metodologis. Pertama, ilmua pengetahuan bersifat sekular. Sekularisasi adalah kesanggupan berpikir pada ranah dunia ini. Corak sekular ilmu pengetahuan berarti bahwa upaya untuk mencari kebenaran ilmiah tidak mengacaukan ranah imanen dengan ranah transenden. Segala perkara yang menjadi tanggungjawab  manusia dicari, diselesaikan dan diuji dalam ranah imanen berdasarkan kaidah kerja dunia ini. Kedua, tanpa kesanggupan berpikir sekular, pelbagai kejadian di dunia dengan mudah dinyatakan sebagai tindakan ilahi. Segala macam tafsir dapat dinyatakan sebagai tindakan ilahi. Dialog publik buntu karena nalar terbentur pada pemutlakan metafisis. Akal budi tumpul terbius bujukan surgawi(Karlina Suppeli: Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan).

Ilmu pengetahuan memerlukan sikap agnostik terhadap realitas adiduniawi. Realitas itu ada atau tidak, bukan urusan ilmu pengetahuan (jangan dirancukan dengan kepercayaan ilmuwan pribadi). Ilmu pengetahuan bersikap netral, tidak punya kepentingan atas realitas tersebut. Ilmu pengetahuan dapat dijalankan oleh ilmuwan yang percaya atau tidak percaya akan realitas adiduniawi, beriman atau tidak beriman. Ilmu pengetahuan tidak menyangkal  kemungkinan terbentuknya pengetahuan intuitif tentang realitas adiduniawi dan tidak menegasikan pengalaman religius. Ilmu pengetahuan semata-mata berjalan dengan premis seakan-akan dunia yang ditelaahnya ini tertutup, tanpa campur tangan kekuatan-kekuatan adiduniawi. Ilmu pengetahuann tidak memiliki perangkat untuk menyanggah atau meneguhkan realitas tersebut. Ilmu pengetahuan terancam mati jika tidak ada pagar yang membatasi cakupan wilayahnya, karena ilmu pengetahuan tidak memiliki sarana untuk mengevaluasi gejala yang tidak dapat diamati, diukur, ditata menurut prosedur keilmuan. Jika pernyataan ilmiah bercampur dengan pernyataan yang mengacu ke wilayah adiduniawi, bagaimana ilmuwan menguji dalam eksperimen yang terkendali? Bagaimana sesama ilmuwan  dapat mengoreksi teori yang mengandung terma yang tidak dapat diuji secara intersubyektif?  Tanpa proses intersubyektif, kesahikan penjelasan ilmiah tidak lagi dapat diandalkan. Tanpa proses intersubyektif, tidak mungkin ada kritik. Tanpa kritik, tidak ada ilmu pengetahuan. Pun ketika ilmuwan yang beriman percaya bahwa Tuhan berkuasa atas dunia ini, dalam pernyataan ilmiahnya ia tidak dapat mengacu ke kehendak ilahi sebagai penyebab gravitasi (Karlina Suppeli: ibid).

Dalam diskursus hubungan ilmu pengetahuan dengan agama, para filsuf  dan agamawan lazim memakai istilah “penyebab kedua.”  Dalam teologi istilah ini menunjuk ke kemampuan dunia sebagai ciptaan untuk bertindak secara mandiri berdasarkan hukum-hukum. Mempelajari hukum-hukum alam adalah tugas ilmu pengetahuan.  Menafsirkan bagaimana hukum-hukum itu bergantung pada penyebab pertama (Tuhan) merupakan tugas teologi. Keduanya dapat bersinggungan dan bahkan beririsan di ruang-ruang penafsiran filosofis  yang keluasannya jauh malampaui wilayah kerja ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukan urusan percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka. Perkembangan ilmu pengetahuan tentu melibatkan kepercayaan-kepercayaan individual. Akan tetapi, kriteria keberterimaan suatu teori mengacu  ke tataran empiris dan logis. Empiris berarti ada kesesuaian  antara pernyataan  yang dirumuskan  oleh pikiran dan fakta  yang ada di dunia; logis berarti pernyataan-pernyataannya sederap, tidak saling bertentangan (Karlina Suppeli: ibid).

Sekali lagi, pemahaman keagamaan yang fatalistik seperti itu tentu merupakan ancaman bagi ilmu pengetahuan. Dunia kedokteran dan atau ilmu pengetahuan lainnya akan mati dan terkubur, umat manusia akan bergelimpangan, mati dan terkubur. Sina mengambil sikap dan tindakan untuk melakukan pembebasan atas doktrin teologi yang membelenggu manusia, yang semuanya dipasrahkan kepada Tuhan atas nama takdir, qodho dan qodar, qudrot dan irodatNya. Pembacaan takdir, qodho dan qadar, qudrot dan iradatNya  bagi Sina tidak bisa dilakukan  pembacaannya di depan atas suatu peristiwa yang akan terjadi dan atau setelah terjadi seperti halnya dengan wabah pandemi yang dihadapinya.

Kehadiran agama dalam keberagamaan adalah untuk orang-orang yang berakal dan berpikir (ada banyak ayat yang mempertegas  dan  menjelaskan dengan frase akal dan berfikir secara tekstual  maupun  filosofis baik dengan pembacaan denotatif maupun konotatif). Agama bukan untuk orang-orang yang berakal dan berpikir untuk meng-akal-akali penafsiran pemahaman akan takdir, kehendak Allah, atas izin Allah, atas kuasa Allah. Orang yang tidak berakal tidak dimintai pertanggunganjawabnya atas segala perbuatan yang dilakukannya, seperti orang gila, tetapi yang mengakal-akali tafsir bukan bagian dari orang gila yang dibebaskan Tuhan dalam perbuatannya. Orang-orang yang berfikir akan ditinggikan derajatnya, kata Tuhan. Yang secara tekstual telah disampaikannya pada umat manusia bahkan selalu bisa dibaca ulang, tidak mengenal ruang dan waktu, itulah keniscayaan agama dalam keniscayaan keberagamaan.

Hal takdir, pernah ditanyakan kepada Khalifah Umar bin Khottob bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razakh bin Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyiy  saat mengurungkan perjalannya dari Madinah ke Syam, di mana negeri Syam sedang dilanda bencana pandemi (Tha’un). Pertanyaan yang diajukan adalah mengapa melawan takdir yang sudah mejadi ketetapan Allah atas bencana wabah Tha’un?  Umar bin Khottob mengatakan: “Menghindari suatu takdir untuk menuju takdir lain.” Pembacaan atas fenomena alam semesta oleh Umar bin Khottob tidak dilakukan di depan baik sebelum maupun sesudah fenomena alam tersebut terjadi. Ada 20 (duapuluh) ayat dalam Al Qur’an yang diturunkan Allah SWT atas koreksi, saran dan pendapat Umar bin Khotob kepada Rosulullah atas tindakannya, dan Allah membenarkan perkataan Umar bin Khotob.

Pandangan dan pemahaman Sina (sejalan dengan Umar bin Khottob) merupakan bentuk pembebasan dari ketersesatan dalam pemahaman dan penafsiran atas doktrin teologi tentang qudrot yang dipahaminya atas Tuhan Maha Berkuasa (RobbNya), begitu juga dengan irodat yang dipahami atas  Tuhan Maha Berkehendak dengan sesukanya (inkonsistensi). Tuhan tidak mungkin melanggar formulasinya sendiri. Apa yang tertulis di Lauh Mahfudz tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri (QS: 6:59).

Hal itu menjadi menjadi sangat tidak mungkin, sekalipun tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, tetapi karena Tuhan telah memberikan ketetapan atau ketentuan dalam bentuk formula ketetapan, misalnya, apakah matahari bisa terbit seminggu sekali dari Barat atau kadang dari Timur kadang terbit dari Tenggara? Tentu bagi Tuhan itu sangat mungkin, tidak ada hal yang tidak mungkin. Akan tetapi, Tuhan tidak akan lakukan itu karena telah memberikan formula ketetapan matahari beredar pada porosnya, terkecuali jika dunia ini harus berakhir (menjelang kiamat) menurut ketetapan Tuhan. Tuhan Maha Berkehendak tapi Tuhan tidak akan berkehendak seperti itu.

Apakah perkawinan kuda dengan kuda akan melahirkan anak sapi? Bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin, tetapi sekali lagi, bahwa Tuhan telah membuat formulasi genetika dengan ketetapanNya, bahwa perkawinan kuda dengan kuda akan melahirkan anak kuda, bukan menjadi anak sapi. Jika dilakukan rekayasa genetik oleh manusia, itupun ada prasyaratnya, dimana formulasi ketetapan Tuhan bisa dibedah dan diuji kebenarannya secara ilmiah (prinsip-prisnip ilmu pengetahuan). Begitu juga, apakah Gabah bisa tumbuh menjadi padi dan kemudian padi bisa berbuah biji gandum? Bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin, tetapi sekali lagi, bahwa Tuhan telah membuat ketetapan dan atau ketentuan yang tetap bahwa tanaman padi akan meghasilkan biji padi (gabah, beras), tidak akan menjadi biji gandum. Sudah menjadi sunahtullah.

Jika kita memilih jalan hidup menjadi pelacur atau koruptor, apakah itu takdir Tuhan atau itu atas kehendak Tuhan atau atas izin Tuhan. Tentu tidak! Tuhan telah membentangkan dua jalan, yaitu ada jalan yang sesat; menuju ke neraka, dan ada jalan yang lurus (shiratholmustaqiem); menuju ke surga. Pilihan menjadi pelacur atau koruptor itu bukan atas kehendak (irodatNya) dan tentu Tuhan itu tidak mengizinkan (tidak meridhoi) perbuatan tersebut, tetapi karena hal itu telah menjadi pilihannya sendiri; mentakdirkan dirinya sendiri, maka Tuhan tetap memberikan pilihan jalan itu atas qudrotNya, Dzat Yang Maha Robb, atas kuasaNya.  Jika saja melacur tersebut adalah atas izin Tuhan atau atas kehendak Tuhan, maka Tuhan tidak akan mengeluarkan ketetapan hukum zina sebagai konsekuensinya. Sama halnya dengan memilih takdir kematian dengan jalan bunuh diri, jika itu atas kehendak Tuhan dan atas izin Tuhan, maka Tuhan tidak akan menjelaskan dalam An-Nisa’: 29-30 bahwa perbuatan itu adalah dosa (besar) atau ke neraka. Ia akan kekal  dalam neraka-Jahanam (HR. Bukhori dan Muslim dari Ad-Dahak).

Doktrin teologi atas kaum fatalis, yang pendangan atau pemahamannya bahwa  semua urusan duniawi itu juga adalah sudah merupakan ketetapan Allah sejak Lauhulmahfudz (yang disebut dalam Al Qur’an sebanyak 13 kali) seperti Takdir, qadho dan qodar, maka hal itu bukan lagi sebagai misteri lagi. Akan tetapi, ternyata itu  merupakan misteri illahiyah karena ada yang Allah katakan sebagai peringatan (teguran, sapaan), azab (hukuman), ujian atau cobaan tetap terjaga dalam kemisterianNya. Oleh karenanya, semua yang terjadi di dunia, tidak semuanya adalah kehendak Tuhan, tetapi semuanya merupakan kuasa Tuhan itu sudah menjadi keniscayaan yang tak akan terbantahkan.

Apakah senjata biologis, menggunakan patogen (bakteri, virus atau organisma penghasil penyakit, antara lain seperti anthrax, botulinum, tularemia, ebola, yersinia pestis) yang merupakan senjata paling ampuh pemusnah umat manusia yang dibuat oleh dan untuk keserakahan manusia itu adalah atas izin atau ridho atau kehendak Tuhan? Tentu sama sekali tidak, tetapi mengapa Tuhan membiarkannya? Senjata biologis tersebut atas RobbNyalah kemudian menjadi dahsyat sebagai pemusnah umat manusia yang berakibat menimbulkan belbagai penyakit dan bencana wabah, sehingga kemudian manusia dituntut untuk menyelesaikan akibat perbuatannya sendiri agar dapat terhindar dari bencana. Maka, kata Tuhan agar ada kaum yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (QS: 3:104)

Sina melompat jauh dan melakukan pembebasan doktrin teologi yang fatalistik tersebut, karena Tuhan menjelaskan bahwa “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS: 6:32). “Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.” (HR. Bukhori Muslim). Sina kemudian menjelaskan tentang jiwa manusia (ruh insani). Jiwa rasional sebagai kesempurnaan pertama bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistiki, dimana pada suatu sisi ia melakukan berbagai prilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi yang lain ia mempersepsi semua persoalan universal. Pada jiwa rasional mempunyai dua daya, yaitu akal praktis dan daya akal teoritis.

Daya akal praktis cenderung untuk mendorong manusia untuk memutuskan perbuatan yang pantas dilakukan atau ditinggalkan, di mana kita bisa menyebutnya sebagai prilaku moral. Daya teoritis, yaitu: akal potensial (akal hayulani), akal bakat (habitual), akal aktual dan akal perolehan. Daya-daya jiwa ini bukanlah daya-daya yang berdiri sendiri, tetapi mereka bekerja sama dan harmonis. Masing-masing saling melayani dan saling memimpin bagi seluruh daya psikis. Masing-masing daya psikis saling melayani. Lalu, akal bakat (bi al-malakah) melayani akal aktual, dan akal material  (hayulani) melayani akal bakat. Jika bukan karena jasad, maka jiwa tidak akan ada, karena tersedianya jasad untuk menerima, merupakan kemestian baginya wujudnya jiwa, dan spesifiknya jasad  terhadap jiwa merupakan prinsip  entitas dan independennya nafs. Tidak mungkin terdapat nafs kecuali jika telah terdapat materi fisik yang tersedia untuknya .  (Syah Reza: Konsep Jiwa dalam Pandangan Ibnu Sina).

Sina tidak gampang menerima begitu saja pandangan, pemahaman atas doktrin-doktrin teologi atau menerima apapun dalam banyak hal jika sturuktur berpikir dan logikanya tidak berkesesuaian, sebagai karakter ilmuwan sekalipun itu terkadang tidak bisa diempiriskan seperti pandangan dalam persoalan metafisis yang di dalamnya mengemuka argumentasi-argumentasi yang ketat, misalnya, ketika bapaknya dan saudaranya yang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah membicarakan tentang jiwa dan akal, Sina menolak pandangannya, dan menjelaskannya: Ssetiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyanya setepat-tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan-kemungkinannya. Kupelihara syarat-syarat muqaddimahnya sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun pergi sholat menghadap maha Pencipta , sampai dibukakanNya kesulitan dan dimudahkanNya kesukaran. Dari ajaran-ajaran Tuhan (agama) disadur prinsip-prinsip praktikal kebijaksanaan  serta batasan-batasan  secara sempurna. Adapun secara toritis kebijaksaan, agama hanya berperan mengingatkan  dan memberi ruang luas kepada rasio untuk mencapainya untuk digunakan sebagai hujjah bertindak.  Akankah kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari Ibnu Sina? ******

 )Penulis adalah Penyair, Peneliti sekaligus  Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD) dan Accountant Freelance, tinggal di desa Singaraja. HP/WA: 0819 3116 4563. Email: jurnalepkspd@gmail.com.