Sabtu, Mei 18, 2024

Multilateral Diplomasi Kerajaan Arab Saudi

Oleh DR Mas ud HMN*)

Jika sari pati konsep multilateral diplomasi dalam arti kerjasama untuk mewujudkan kestabilan keamanan dengan menghilangkan dispute atau pertikaian berkepanjangan pada kawasan Timur Tengah tentu saja hal itu penting dilakukan. Mengapa demikian? Karena tanpa stabilitas peran maksimal negara sulit diwujudkan.

Inilah hendak dibuktikan Kerajaan Arab Saudi kini. Yaitu sebagai negara dalam posisi amat penting di Timur Tangah memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kestabilan keamanan. Seperti gangguan terhadap kawasan seperti dispute atau pertikaian yang terjadi di wilayah Timur Tengah, mulai dari konflik Lebanon antar faksi, soal Yaman dengan konflik dalam negerinya, poros Iran-Turki dan Liga Arab. Juga konflik Arab-Israel. Semua pertikaian berbahaya dan membebani Arab Saudi. Syukurlah di bawah kepimimpinan piawai dan bijaksana King Salman mampu menghadapi dispute tersebut dengan penuh kesabaran dan kepiawaiannya.

Kepiawaian tersebut dimunculkan baru-baru ini dalam pertemuan G20S pertengahan Mei 2020 yaitu menggalang konsensus negara G20S tersebut. Yaitu satu bentuk multi national diplomasi  yang dilakukan Saudi Arabia bagi kepentingan nasional, kawasan dan Timur Tengah, patut  diapresiasi tinggi.

Tidak syak lagi tujuannya untuk melawan unsur dispute berkepanjangan. Mengapa demikian upaya diplomasi dengan kepentingan sendiri dan dilakukan sendiri sering tanpa hasil yang diharapakan. Bahkan mengalami kegagalan. Ibarat ungkapan bijak, duduk sendirian sempit dan duduk beramai menjadi lapang. Dari bilateral menjadi multilateral.

Ini adalah setting baru King Salman belakangan ini yang diangkat Riyadh menjadi multi politik diplomasi yang basisnya terkait dengan identitas politik Arab Saudi itu sendiri. Policy tersebut punya konektivitas dengan Liga Arab, poros Iran-Turki, prinsip kejasama G20S dan sebagainya. Pokok soalnya bagaimana menjelaskan kepentingan Arab Saudi sendiri dengan semua faktor di atas. Setidaknya dalam melawan dispute Timur Tengah yang bekepanjangan.

Ya kita mengetahui Arab Saudi negara penting di satu pihak perlu menegakkan posisi strategisnya. Sementara pada pihak lain terbebani dengan politik regional dan global. Semua itu jelas tidak mudah bagi Riyadh mengejawantahkan peran internasionalnya. Namun bagaimanapun harus dihadapi Saudi Arabia kini.

Seperti diungkapkan oleh cendekiawan muslim Timur Tengah Adullah Monem. Ia seorang pemikir moderat Timur Tengah yang sering menurunkan opininya di harian Al Ahram dengan butir pemikiran moderat yang simpatik. Salah satu opini yang diturunkan Al Ahram 15 Mei lalu berjudul: Multi Nasional Diplomasi.

Dalam uraian sepanjang seribu kata, ia menulis sinerginya unsur regional dan global menghadapi dispute Timur Tengah yang tidak berujung. Pendekataan harus dilakukan adalah memprioritaskan multi nasional diplomasi dengan menggeser bilateral yang tidak sukses selama ini. Kata dia, adalah membawa konsesus gerakan negara G20S.

Dalam pandangan Abdel Monem Said posisi Arab Saudi lebih produktif kalau menggeser pola diplomasi politik bilateral menjadi diplomasi politik multilateral. Hal itu mengingat menjelmakan kekuatan lebih besar yaitu basis kerjasama G20S. Lagi pula dapat mengeleminir anasir negatif selama ini seperti soal pertikaian Arab Saudi terhadap poros Iran-Turki, serta  pertikaian dengan Yaman.

Tentu saja bukan mengabaikan soal bilateral yang ada, tetapi hanya sebagai tahapan prioritas belaka. Persoalan bilateral dan regional terus diupayakan menempuh jalan sendiri untuk menemukan faktor kunci. Sehingga hubungan bilateral dan politik multilateral diplomasi dalam satu tarikan nafas. Demikian Abdel Monem Said (Al Ahram online 20/5/20).

Dari persfektif kita Indonesia menurut hemat penulis bahwa multilateral diplomasi yang dilakukan Arab Saudi tersebut sangat positif. Hal itu mengingat unsur multilateral adalah fungsional memadukan kekuatan dan pada gilirannya menjadi kekuatan nyata. Terutama menghadapi pertikaian yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Penulis berpandangan bahwa Indonesia sebagai kekuatan negara berkembang ingin melihat Arab Saudi sebagai negara kaya beperan maksimal. Terutama berkontribusi dalam krisis ekonomi dunia pasca virus Covid-19. Harapan itu menjadi penting karena berimplikasi luas. Tidak hanya bernilai tinggi untuk Saudi Arabia, tetapi juga bagi banyak negara. Semoga demikian.

 

Jakarta, 17 Juni 2020

 

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles