Oleh: Kol (Purn) Hikmat Israr
Meski tokoh-tokoh yang ditawan Belanda telah dibebaskan dan dikembalikan dari Bangka ke Yogya dan kota telah dikosongkan serta gencatan senjata disepakati, namun cease fire sesuai ‘Roem Royen Statement’ belumlah benar-benar dilaksanakan di Sumatera, karena kesepakatan yang dilangsungkan Belanda dengan pemimpin yang ditawan di Bangka itu mengabaikan keberadaan PDRI.
Oleh karena itu, selama PDRI belum mengeluarkan perintah menghentikan petempuran, maka Pangsar APRI Letjen Sudirman tidak akan memerintahkan APRI dan gerilyawan berhenti bertempur, menghadang dan menyerang tentara Belanda. Karena itu kontak tembak masih saja terjadi di banyak tempat, begitu juga di daerah Lima Puluh Kota, malah makin sering terjadi saling serang antara gerilyawan dan tentara Belanda.
Korban pihak kita yang dibunuh di jembatan Batang Agam Kota Payakumbuh masih bertambah, sepertinya di saat-saat terakhir kekuasaannya, Belanda tetap ingin menangkap hidup atau mati Ketua PDRI yang gara-gara keberadaan serta kepemimpinanya dalam menggelorakan perang rakyat semesta melawan Belanda, maka Belanda gagal mewujudkan keinginannya menjajah Indonesia kembali.
Pertempuran terakhir antara gerilya dan tentara Belanda di Lima Puluh Kota terjadi di daerah Balai Mansiro. Ketika pertempuran tengah berlangsung, dari pihak Belanda yang beberapa anggotanya telah terluka, muncul serdadu melambaikan bendera putih seraya berteriak “Cease fire, cease fire, cease fire!”.
Setelah pertempuran terhenti, Komandan pihak Belanda menyampaikan berita pada Komandan Gerilya, bahwa terhitung sejak tanggal 4 Agustus 1949 itu, Pemerintah Indonesia dan Belanda sudah sepakat melakukan gencatan senjata dan mengakhiri peperangan.
Setelah meyakini berita itu benar. Kedua komandan yang tengah bertempur tersebut berikut anggotanya, sama-sama bersuka cita. Boleh jadi karena kedua belah pihak sama-sama telah lelah bertempur dan menginginkan situasi damai.
Kekalahan pasukan Belanda dalam petempuran terakhirnya di Balai Mansiro, Lima Puluh Kota tersebut, dapat mereka terima dengan lega dan ikhlas karena mereka menyadari Indonesia memang sudah merdeka, bukan jajahan Belanda lagi; dan serdadu Belanda juga salud betapa tangguhnya gerilyawan Indonesia dalam membela bangsa dan negaranya. ***
*) Penulis adalah Dewan Kehormatan DHC BPD 45 Lima Puluh Kota
