Rabu, Maret 11, 2026

Warga Resah, Peredaran Obat Keras Golongan G Marak di Sukabumi Selama Ramadan

Sukabumi, Demokratis

Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, keresahan warga Kota Sukabumi meningkat menyusul maraknya peredaran obat keras terbatas (OKT) atau yang populer disebut Obat Golongan G. Mirisnya, aktivitas transaksi obat-obatan berbahaya ini justru tetap eksis di tengah suasana religius bulan puasa.

Modus Toko Kelontong dan Kosmetik

Berdasarkan pantauan di lapangan dan laporan dari berbagai elemen masyarakat, para pengedar kerap menggunakan kedok toko kelontong atau toko kosmetik untuk mengelabui petugas. Jenis obat yang paling banyak diburu adalah Tramadol dan Hexymer, yang sering kali disalahgunakan oleh kalangan remaja dan pemuda.

Beberapa titik yang menjadi sorotan warga meliputi kawasan padat penduduk di Kecamatan Cikole dan Warudoyong. Transaksi biasanya dilakukan secara terselubung, di mana pembeli datang dengan kode tertentu tanpa harus turun dari kendaraan.

Dampak Buruk di Bulan Suci

Maraknya peredaran obat ini dinilai sangat mencederai kekhusyukan ibadah Ramadan. Warga khawatir penyalahgunaan obat tersebut menjadi pemicu utama terjadinya gangguan kamtibmas, seperti:

Aksi Tawuran: Banyak pelaku tawuran remaja yang tertangkap dalam kondisi di bawah pengaruh obat-obatan ini.

Kriminalitas Jalanan: Meningkatnya risiko pencurian atau tindakan anarkis akibat hilangnya kesadaran pengguna.

Gangguan Kesehatan: Penggunaan jangka panjang tanpa resep dokter dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen hingga kematian.

“Kami sangat menyayangkan, di saat warga fokus beribadah, masih ada oknum yang nekat merusak generasi muda dengan menjual barang haram ini. Kami minta aparat bertindak tegas,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Respons Pihak Berwajib

Menanggapi fenomena tersebut, jajaran Satres Narkoba Polres Sukabumi Kota telah meningkatkan intensitas patroli dan razia ke sejumlah titik rawan. Pihak kepolisian menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi para pengedar obat ilegal, terutama selama Operasi Ketupat dan bulan Ramadan.

Masyarakat diimbau untuk proaktif melaporkan jika melihat adanya aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka. Kerjasama antara warga dan aparat menjadi kunci utama untuk “membersihkan” Kota Sukabumi dari peredaran obat terlarang. (Ruslan Ag Berayen)

Related Articles

Latest Articles