Sepak bola terbukti menjadi bahasa universal, bahkan di meja perundingan tingkat tinggi antara pemimpin dunia. Dalam kunjungan kenegaraan ke Beijing, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dikejutkan oleh pengetahuan mendalam Presiden China, Xi Jinping, tentang sepak bola Inggris.
Dalam pertemuan diplomatik, Jumat (30/1/2026) yang bertujuan untuk “mereset” hubungan kedua negara tersebut, Xi Jinping secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya adalah pendukung setia Manchester United.
Pengakuan Xi: Suka MU, Tahu Palace
Editor Financial Times, George Parker, melaporkan bahwa di tengah pembicaraan serius, Xi mengangkat topik sepak bola. Ia mengidentifikasi Manchester United sebagai klub favoritnya, menambah daftar panjang tokoh dunia yang menjadi penggemar Setan Merah selain Usain Bolt dan Rory McIlroy.
Namun, kejutan sesungguhnya terjadi ketika Xi menyebutkan klub lain yang ia ikuti. Selain Arsenal dan Manchester City, Presiden China itu mengaku mengikuti perkembangan Crystal Palace.
Xi bahkan menyebut klub London Selatan itu hanya dengan sebutan singkat “Palace”—sebuah detail spesifik yang dilaporkan membuat PM Starmer “tampak terkejut” (visibly taken aback). Momen ini menegaskan betapa kuatnya pengaruh budaya Premier League hingga ke jantung politik global.
Hadiah Canggung dari Fans Arsenal
Suasana pertemuan yang digambarkan “hangat dan konstruktif” itu juga diwarnai momen unik terkait hadiah.
Keir Starmer, yang diketahui sebagai penggemar berat Arsenal, memberikan cinderamata berupa bola pertandingan (match ball) yang telah ditandatangani para pemain. Bola tersebut berasal dari laga thriller akhir pekan lalu di Emirates Stadium.
Ironisnya, bola itu berasal dari pertandingan di mana Arsenal (tim jagoan Starmer) kalah 2-3 dari Manchester United (tim favorit Xi).
Selain membahas klub, Xi juga sempat memuji kemampuan olah bola Starmer. Ia menyebut PM Inggris itu “seperti seorang profesional” dalam permainan sepak bola 5-lawan-5 (5-a-side).
Diplomasi yang Mencair
Pembicaraan mengenai sepak bola ini menjadi pembuka jalan bagi diskusi yang lebih berat. Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut bahkan berlangsung 45 menit lebih lama dari jadwal yang ditentukan sebelum dilanjutkan dengan jamuan makan siang di Great Hall of the People.
Downing Street menyatakan bahwa pertemuan ini adalah langkah awal yang positif untuk mencairkan hubungan diplomatik yang sempat membeku (“zaman es”) antara Inggris dan China, serta membahas pencabutan sanksi terhadap anggota parlemen Inggris. (IB)
