Oleh: I Nengah Rata Artana, M. Sn
Sekretaris MIO Indonesia DPW Propinsi Bali dan Akademisi Universitas Dhyana Pura
Tahun 2025 menjadi cermin getir bagi bangsa kita di tengah ledakan media sosial dan digital. Hoaks pun merajalela masih meraja rela di sosial media, memicu polarisasi SARA yang tendensius memecah persatuan, sementara banjir konten konsumtif mendorong gaya hidup boros-plastik sekali pakai dan fast fashion banjiri lautan kita, mempercepat krisis iklim di Sabang sampai Merauke.
Digitalisasi ekonomi melalui e-commerce memang ciptakan lapangan kerja, tapi membayangi kerentanan data pribadi: bocornya miliaran akun warga oleh peretas ungkap kelemahan regulasi. Generasi Z, lahir di era reels pendek, semakin individualis, bahkan nyaris lupa nilai gotong royong yang ada di way of live kita yakni Pancasila. Banjir sampah elektronik dari gadget usang menumpuk di TPA, nyaris mengancam tanah subur kita.
Namun, ada sinar harapan. Kampanye #IndonesiaHijau di sosial media sukses galakkan zero-waste challenge, ajak influencer promosi wisata berkelanjutan. Pemerintah luncurkan Undang-Undang Digital Ramah Lingkungan, paksa platform terapkan AI deteksi hoaks dan carbon footprint konten. Komunitas urban farming di Jakarta via Instagram dorong swasembada pangan.
Refleksi ini mengajak kita: bangsa digital harus bijak. Kurangi scroll tak berujung, amplifikasi suara lingkungan. 2026, mari bangun Indonesia digital inklusif, hijau, dan bersatu-untuk generasi mendatang untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Selamat Tahun Baru 1 Januari 2026
