Sabtu, Maret 14, 2026

Telepon Pangeran MBS, Prabowo Bahas Konflik Timteng

Jakarta, Demokratis

Presiden RI Prabowo Subianto melakukan perbincangan lewat sambungan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri (PM) Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).

Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas masalah konflik di Timur Tengah (Timteng) yang kian memanas. Pangeran MBS dan Prabowo berfokus dalam diskusi mengenai dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap keamanan serta stabilitas, baik di tingkat regional maupun internasional.

“Yang Mulia (Pangeran MBS) meninjau melalui telepon dengan Presiden Indonesia perkembangan eskalasi militer di kawasan dan dampaknya yang serius terhadap keamanan dan stabilitas regional dan internasional,” tulis dalam keterangan resmi akun X Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dikutip Kamis (12/3/2026).

Prabowo pun meminta agar aksi militer di Timur Tengah segera dihentikan.

Ia memberikan peringatan keras mengenai risiko jangka panjang ketegangan saat ini akan merusak stabilitas keamanan kawasan, dan akhirnya berdampak pada tatanan global.

“Presiden Indonesia menekankan perlunya penghentian segera aksi militer di kawasan tersebut, dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan merusak keamanan dan stabilitas kawasan,” tulis dalam keterangan tersebut.

Sebagai informasi, sepihak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut agresi ke Iran akan ‘segera berakhir’ mendapat jawaban dingin dari Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya berada dalam posisi sangat siap untuk melanjutkan hujan rudal ke arah Israel maupun pangkalan militer AS di seluruh Asia Barat.

Dalam wawancara eksklusif dengan media AS, PBS News, Selasa (10/3/2026), Araghchi dengan lugas menyebut serangan gabungan AS dan Israel yang menyasar fasilitas rudal Iran telah gagal total.

Alih-alih melumpuhkan kekuatan pertahanan Teheran, serangan tersebut justru mempertegas bahwa Washington dan Tel Aviv tidak memiliki strategi akhir yang realistis.

Tudingan Agresi Membabi Buta

“Mereka hanya mulai menyerang kami secara membabi buta. Targetnya adalah kawasan permukiman, rumah sakit, sekolah, hingga infrastruktur sipil. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya bagi stabilitas dunia,” ujar Araghchi dengan nada tajam.

Bagi Teheran, serangan yang dimulai sejak 28 Februari lalu—yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—adalah sebuah kejahatan perang. Namun, Araghchi menekankan bahwa suksesi kepemimpinan kepada Mojtaba Khamenei menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan anti-AS dan anti-Israel tidak akan bergeser satu inci pun. Kontinuitas dan stabilitas rezim diklaim tetap kokoh meski dihantam gempuran dahsyat.

Pintu Dialog Tertutup Rapat

Satu hal yang ditegaskan Araghchi: jangan harap ada meja perundingan. Iran mengaku sudah kenyang dengan ‘rasa pahit’ dari diplomasi masa lalu dengan Washington.

“Berkomunikasi dengan Amerika Serikat sama sekali bukan agenda kami. Pertemuan itu bukan pilihan,” tegas diplomat senior ini.

Teka-teki Selat Hormuz dan Harga Minyak

Mengenai guncangan pasar energi global, Araghchi melemparkan tanggung jawab sepenuhnya ke pundak AS dan Israel. Kenaikan harga minyak dunia yang kini mencekik pasar internasional disebut sebagai dampak langsung dari agresi tersebut yang mengganggu produksi serta transportasi minyak regional.

Menariknya, Araghchi membantah tuduhan bahwa pihaknya telah menutup Selat Hormuz. “Iran tidak menutup Selat Hormuz dan tidak menghalangi navigasi di sana,” klaimnya.

Hal ini kontras dengan laporan intelijen Barat yang menyebut adanya pemasangan ranjau dan risiko tinggi bagi pelayaran komersial di urat nadi energi dunia tersebut. (EKB)

Related Articles

Latest Articles