Selasa, Maret 17, 2026

PM Inggris Sebut Operasi Selat Hormuz Bukan Misi NATO

Jakarta, Demokratis

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak akan dilakukan di bawah naungan NATO.

“Kami bekerja sama dengan pihak lain untuk menyusun rencana yang kredibel untuk Selat Hormuz guna memastikan kami dapat membuka kembali jalur pelayaran,” katanya dalam konferensi pers, Senin (16/3/2026).

“Izinkan saya tegaskan: itu tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO. Itu harus menjadi aliansi mitra, itulah sebabnya kami bekerja sama dengan mitra di Eropa, di Teluk, dan dengan AS,” kata Starmer.

Sebelumnya pada Sabtu akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk mengamankan salah satu jalur perdagangan minyak global yang paling penting.

Ia memperingatkan sekutu NATO, aliansi tersebut menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika gagal mengamankan selat tersebut.

Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menolak usulan Trump, dengan mengatakan pemerintahnya “tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi dalam misi semacam itu.”

Prancis juga telah menolak inisiatif Trump. Prancis dilaporkan tengah bernegosiasi dengan negara lain di Eropa, Teluk Persia, dan sekitarnya untuk bersama-sama berpatroli di selat tersebut setelah konflik di Timur Tengah berakhir.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan menjelang pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels ia akan membahas perluasan misi angkatan laut Aspides ke Selat Hormuz.

Misi tersebut melibatkan kapal Yunani dan Italia yang melindungi kapal di Laut Merah.

Juru bicara pemerintah Yunani Pavlos Marinakis mengatakan Yunani akan menolak berpartisipasi jika misi tersebut diperluas ke Selat Hormuz.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menimbulkan kerusakan dan menewaskan korban sipil.

Iran kemudian membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar Iran menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz terhenti secara de facto.

Selat tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga memengaruhi ekspor dan produksi minyak kawasan. (Rio)

Related Articles

Latest Articles