Jakarta, Demokratis
Massa libur Lebaran 2026 bagi anak sekolah mulai dari SD hingga SMA/SMK akan berakhir pada Senin, 30 Maret 2026.
Nantinya, kegiatan pembelajaran seluruh jenjang pendidikan mulai berjalan normal.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, persiapan masuk sekolah memerlukan sinergi yang utuh antara anak-anak, orang tua, dan institusi pendidikan, terutama bagi keluarga yang saat ini masih berada di kampung halaman.
“Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat. Prasyarat kondisi yang kondusif harus dibangun melalui konektivitas emosional,” kata Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra saat dikonfirmasi, Rabu (25/3/2026).
KPAI menyarankan agar pihak sekolah menerapkan metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif.
“Sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan,” ujarnya.
Secara umum, KPAI melihat penyelenggaraan mudik tahun ini berjalan dengan baik.
Meski demikian, KPAI mengingatkan agar para petugas dilapangan tidak lengah. Potensi kepadatan arus balik lalu lintas di hari-hari terakhir libur tetap memerlukan rekayasa dan langkah antisipatif untuk mengurangi faktor kelelahan pada masyarakat, khususnya anak-anak.
“KPAI mengingatkan pentingnya masa transisi belajar secara psikologis, bahwa anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar. Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar, sebelum mereka benar benar siap memasuki rutinitas sekolah,” katanya.
KPAI menyebutkan, tradisi mudik yang diikuti oleh sejumlah anak di Indonesia bukan sekedar perpindahan fisik, melainkan ritual penguatan kohesi (ikatan) sosial dan akar identitas budaya.
“Anak-anak baru saja menyerap nilai-nilai tradisi, kekerabatan, dan kearifan lokal langsung dari sumbernya. Kekayaan pengalaman empiris ini, sangat baik untuk digali menjadi potensi awal pembelajaran, idealnya diakomodasi oleh para guru sebagai bagian dari interaksi di kelas, sehingga anak merasa pengalaman sosialnya dihargai dan relevan dengan lingkungan sekolahnya,” katanya.
KPAI mengatakan, pendekatan konektivitas ini sangat sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, yang memandang momentum libur Lebaran sebagai “kelas kehidupan”.
“Seperti berbaur dengan masyarakat dan keluarga di kampung adalah bentuk belajar di luar sekolah guna menumbuhkan kohesi sosial anak,” katanya.
KPAI mendukung penuh imbauan Mendikdasmen agar sekolah menciptakan suasana kembali belajar yang gembira dan reflektif, sekaligus mengingatkan orang tua untuk mulai mengatur kembali jam tidur anak. (Albert S)
