Sabtu, Mei 2, 2026

Ozil Bongkar Penyebab Hengkang dari Arsenal

Mesut Ozil kembali membuka luka lamanya di Arsenal. Mantan gelandang Jerman itu mengklaim dirinya disingkirkan dari tim utama setelah bersuara soal perlakuan terhadap Muslim Uighur di China.

Ozil menyampaikan pengakuan itu dalam forum Leadership in the Age of Confusion Summit awal pekan ini. Ia menyebut Arsenal “menutup pintu” dan tidak lagi mengizinkannya bermain sebelum hengkang pada 2021.

Kasus ini bermula pada akhir 2019. Ozil mengunggah pernyataan soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Arsenal kemudian mengambil jarak lewat pernyataan di Weibo, platform media sosial China.

“Konten yang dipublikasikan adalah pendapat pribadi Ozil. Sebagai klub sepak bola, Arsenal selalu berpegang pada prinsip tidak melibatkan diri dalam politik,” demikian pernyataan Arsenal saat itu.

Ozil mengaku sadar unggahan itu akan membawa risiko. Namun ia tetap melakukannya.

“Saya tahu jika mengunggah sesuatu seperti ini, saya akan mendapat masalah. Tapi saya tidak peduli,” kata Ozil.

Ia lalu menuding situasinya di Arsenal berubah. “Mereka menutup pintu untuk saya. Mereka tidak mengizinkan saya bermain lagi,” ujarnya.

Ozil mengaku memahami sikap rekan-rekan setimnya yang memilih menjaga jarak. Menurut Ozil, mereka juga bisa ikut terkena masalah jika terlalu dekat dengannya.

Masa itu disebut Ozil sebagai periode berat. Ia mengaku keluar dari skuad dan berlatih sendiri selama delapan bulan. Kontraknya di Emirates kemudian diputus atas kesepakatan bersama sebelum ia pindah ke Fenerbahce pada Januari 2021.

“Saya menikmati bermain sepak bola. Mereka mengambil itu dari saya,” kata Ozil.

Ia juga menyebut dukungan keluarga membantunya melewati masa sulit tersebut. Menurut Ozil, istri dan anaknya menjadi sumber kekuatan ketika kariernya di Arsenal meredup.

Namun pihak Arsenal saat itu membantah keputusan klub didasari pertimbangan komersial atau sikap politik Ozil. Mantan Kepala Eksekutif Arsenal, Vinai Venkatesham, mengatakan tidak adil menyebut klub mengambil keputusan bisnis dalam kasus tersebut.

Kasus ini kembali menyorot posisi klub besar ketika isu politik, pasar global, dan keputusan olahraga saling bertemu. (Rio)

Related Articles

Latest Articles