Lesplang SMK Negeri 2 Batangtoru Menjadi Taman Anggrek Hutan

Tapsel, Demokratis

SMKN 2 Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), terkesan tidak terrawat. Pasalnya, berbagai kejanggalan mulai dari pengecatan, asbes pun banyak yang bolong serta banyak bangku peserta didik yang rusak, padahal banyak dana di sekolah itu untuk perawatan.

Saat Aliansi wartawan dan NGO LIPPAN SUMUT (Lembaga Independen Pengawasan Pejabat dan Aparatur Negara) investigasi terkait informasi dari Hamid Sulton Harahap warga Desa Sipenggeng, Kecamatan Batangtoru, Rabu (10/6/2026), mengatakan bahwa perawatan sekolah yang memprihatinkan namun Kepala SMKN 2 Batangtoru tidak berada di tempat.

Saat dikonfirmasi siswa yang tidak mau disebut namanya mengatakan bahwa buku paket yang dipinjamkan kepada siswa tidak boleh dibawa pulang dikarenakan buku di sekolah tidak cukup satu eksemplar untuk satu siswa.

“Iya benar, pak. Kami tidak bisa membawa pulang buku paket sedangkan buku itu sangat penting bagi kami untuk mengulangi yang dipelajari di  sekolah pada malamnya. Terpaksalah kami pulangkan,” terang siswa tadi kepada wartwan.

Masih banyak informasi yang menarik seputar dari pada kelakuan Kepala SMKN 2 Batangtoru, Erikson Benyamin Marnaek Sihombing, menurut salah satu guru yang tidak mau disebut namanya, membenarkan apa yang telah dituturkan siswa kepada tim wartawan, terkait buku yang tidak boleh dibawa pulang oleh siswa, serta menambahkan bahwa sejak Sihombing menjadi Kepala Sekolah di SMK ini, sekolah ini hanya satu kali dicat dalam 3 tahun berjalan. Padahal banyak asbes yang rusak, spidol pun hanya satu dalam satu semester dibagikan.

“Iya memang benar yang dikatakan siswa, bahwa buku tidak boleh dibawa pulang ke rumah masing-masing, sekolah pun hanya satu kali dicat dan spidol hanya satu dalam satu semester, jika habis kami para guru beli sendiri,” terang guru dimaksud.

M Hutagalung selaku Kepala Investigasi LIPPAN SUMUT se-Sumatera Utara mengatakan, di dalam tahun 2023 sampai 2025 ada banyak ditampung dana perawatan di SMKN 2 Batangtoru sebesar Rp 574.735.000 (lima ratus tujuh puluh empat juta tujuh ratus tiga puluh ribu rupiah). Sedangkan untuk perpustakaan sebesar Rp 259.760.000 (Dua ratus lima puluh sembilan juta tujuh ratus enam puluh enam ribu rupiah).

Fakta di lapangan bahwa banyak kejanggalan di sekolah itu, dimana Lesplang SMK N 2 Batangtoru menjadi promosi taman anggrek hutan. Siswa pun tidak diperbolehkan untuk membawa pulang buku paket ke rumah masing-masing.

Yang menjadi pertanyaan dikemanakan kah biaya perawatan di dalam kurun waktu tiga tahun ini? Kemanakah biaya pengembangan perpustakaan?

Sulton Harahap dan M Hutagalung berharap kepada penegak hukum agar menampung informasi melalui media ini terkait SMKN 2 Batangtoru ini, jika telah ditemukan petunjuk agar sesegera mungkin diproses hukum demi menyelamatkan uang negara.

“Jika di dalam waktu dekat tidak ada tanda-tanda diproses hukum Kepala SMKN 2 Batangtoru atas dugaan KKN, maka Aliansi Pers dan NGO LIPPAN SUMUT akan membuat laporan secara resmi kepada penegak hukum,” terang Sulton.

Sementara Ponidi selaku Ketua Komite Sekolah SMKN 2 Batangtoru di kediamannya, sama sekali tidak mengetahui dan tidak diberitahu soal penggunaan dana di sekolah itu. Apalagi yang lagi viral sekarang, soal penjualan forklift yang telah dipreteli (disate). “Sehingga saya kaget. Bahkan soal urusan prosesi pencairan dana oleh Benyamin, saya tak pernah membubuhkan tanda tangan,” terangnya. (MH/UNH)

 

Related Articles

Latest Articles