Home Opini Ketakutan Sosial Itu Bernama Wabah Covid-19

Ketakutan Sosial Itu Bernama Wabah Covid-19

39
0
SHARE

Oleh DR Mas ud HMN *)

Abstraksi sejarah sebagai pohon sosial dan standar nilai pada kasus wabah Covid-19 sekarang ini merupakan unsur pembelajaran penting dan menjadi hal yang mendesak. Mengapa begitu karena ada perkembangan peristiwa berbahaya pada konteks kehidupan manusia ada cobaan atau wabah, ada kemiripan kisah yang di masa lalu yang sesungguhnya terdapat nilai atau ibrah yang terkandung di dalamnya.

Kita mempunyai kepastian teks ajaran dalam konteks terjadi. Ada masalah ketakutan dan kebimbangan bahkan kegalauan; ini bersambung dengam kisah ketakutan umat Nabi Musa. Mereka dikejar dan diancam penguasa Firaun. Ketakutan setingkat dengan wabah Corona sekarang. Ketakutan tidak berdaya akan masalah yang datang. Ketakutan yang identik dengan keputusasaan. Ada poin di sini yakni pertama ketakutan karena wabah, kedua ada ketakutan ekonomi, ketiga ada hilangnya sumber kehidupan masa depan.

Memang ketakutan ini semua ada dasarnya ketakutan pada wabah karena membawa penyakit dan penderitaan bahkan kematian. Ketakutan ekonomi akan hilangnya sumber kebutuhan seperti makanan dan sumber mengatasi penyakit atau obat. Lalu hilangnya sumber energi untuk masa depan karena hancurnya sarana hajat hidup.

Lingkup persoalan adalah bentuk pesimisme. Ketakutan dan kegalauan bahkan keputusasaan. Ini tantangan negatif. Abstraksi ketidak berdayaan, pupusnya harapan hidup.

Tetapi itu bukanlah semuanya. Masih ada faktor lain yaitu faktor positif atau unsur optimisme. Kajiannya terkait dengan konsep Chalik Sang Pencipta dan konsep makhluk yang diciptakan. Posisi manusia adalah mahluk dan musibah itu sesuatu yang dijadikan. Di atas musibah ada Sang Chalik. Identik dengan ada langit dan masih ada langit di atas langit. Uraian di atas membawa kita ada dua faktor yang boleh disimpulkan yakni, faktor pesimis dan faktor optimis. Pesimis adalah kegalauan dan keputusasaan. Sementara optimis adalah keyakinan ada jalan keluar. Yaitu datang dari langit dari Sang Pencipta.

Maka atau identifikasi persoalan adalah ketakutan umat. Sejarah umat manusia dapat kita temui kisah Nabi Musa ada ketakutan luar biasa yang besarannya ada kemiripan.

Memang masalahnya bukan musibah wabah penyakit. Masalahnya adalah tirani, ketakutan dari penguasa dengan kezaliman yang tidak ada taranya. Umat Nabi Musa menghadapi ketakutan dari ancaman kekuasaan tirani yang nyaris tak ada jalan untuk keselamatan dari kematian dari bala kekuatan tirani.

Tetapi umat Nabi Musa diberi jalan keluar dengan lari memasuki Laut Merah. Laut terbelah memberi jalan untuk melewati. Tapi ketika bala tentara Firaun masuk laut memenutup kembali, mereka tenggelam. Umat Nabi Musa dapat keluar dengan selamat. Intinya adalah yang identik ketakutan musibah Corona.

Adakah kekuatan yang dapat melindungi dan bagaimana meperolehnya? Jawabnya adalah pasti ada jalan keluar. Sebab ada kuasa ada penguasa di atas penguasa ada langit ada kuasa di atasnya.

Bagi yang serius dalam studi manajerial dapat dihubungkan dengan unsur strategi, implementasi, dan unsur aplikasi strategis masalah yaitu:

Pertama, keyakinan. Yaitu unsur berlautan dengan pemikiran keyakinan untuk mengatasi persoalan. Soalnya pada sisi bahwa sesungguhnya masalah bisa diatasi.

Yang kedua implementasi strategis. Yaitu implementasinya dengan memfungsikan unsur terkait intern dan ekstern. Komponen daya dan upaya.

Ketiga strategi fokus adalah aplikasi target pengatasan masalah pada individu dan masyarakat. Pengukuran capaian kerja.

Untuk semuanya itu kita memerlukan satu keyakinan yaitu wabah adalah ada kejadiannya dan itu bukan segalanya. Pemikiran dan keyakinan positif itu landasan mengatasi masalah. Tanpa optimisme itu strategi menanggulanginya akan sulit.

Tentu saja memerlukan semua kapasitas yang tersedia untuk berobat, melindungi diri dengan masker dll. Juga makanan yang mengandung gizi yang dibutuhkan. Tanpa hal ini akan sulit karena tiadanya daya tahan tubuh. Target yang mungkin adalah melindungi yang rentan terserang wabah, di samping melakukan penjagaan terhadap mereka yang memiliki unsur ketahanan tubuh secara individual.

Bagi kita sebagai umat yang beriman adanya wabah Corona sekarang ini hanya bersifat sementara, dan bukan segalanya. Nilai di sini adalah nilai pembelajaran. Ketakutan bukan harus menjadikan putus asa. Seperti pembelajaran pada niulai umat Nabi Musa.

Dicontohkan di mana ketakutan dihadapi dengan keyakinan/kemenangan dan keberhasilan adalah niscaya atas izin Allah Tuhan Sang Pencipta. Doa dan kerja adalah landasannya. Izin Allah adalah segalanya. Kita mohon perlindungan-Nya. Amin.

 

*) DR Mas ud HMN adalah Dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here