Rabu, Juni 19, 2024

Sejarah Singkat Kerajaan Banten

Kerajaan Banten atau disebut juga Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di tanah Sunda, tepatnya di Provinsi Banten pada abad ke-16.

Pada masa itu, Kesultanan Banten menjadi salah satu kerajaan yang punya peranan penting dalam perdagangan rempah sekaligus penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Kerajaan Banten didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Ia mengangkat anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertama Kesultanan Banten.

Pada masa kepemimpinan Maulana Hasanuddin (1552-1570), perdagangan Kerajaan Banten berkembang pesat yang didukung dengan adanya pelabuhan sebagai gerbang perdagangan antarnegara.

Lokasinya yang strategis, menjadikan Kerajaan Banten sangat mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya.

Lada menjadi komoditas yang paling diunggulkan dan berkembang pesat pada masa itu. Bahkan monopoli perdagangan lada di Lampung dikuasai oleh Banten.

Belum lagi didukung oleh niaga melalui jalur laut yang membuat Banten berkembang tak hanya di Nusantara, melainkan sampai pada pedagang Persia, India, Arab, Portugis, hingga Tiongkok.

Masa keemasan Kerajaan Banten disebut berlangsung ketika pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M).

Di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, ia banyak memimpin perlawanan terhadap Belanda lantaran VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten.

Di sisi lain, Sultan Ageng Tirtayasa juga menginginkan Banten menjadi kerajaan Islam terbesar. Tak heran jika Islam telah menjadi pilar dalam Kerajaan Banten maupun pada kehidupan masyarakatnya.

Namun sayang perang saudara adalah salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Banten. Sekitar tahun 1680 terjadi perselisihan dalam Kesultanan Banten. Anak dari Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Sultan Haji, berusaha merebut kekuasaan dari tangan sang ayah.

Perpecahan ini dimanfaatkan oleh kompeni VOC dengan memberi dukungan dan bantuan persenjataan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara menjadi tak terhindarkan.

Akibat sengketa tersebut, Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya. Kemudian pada 1683 Sultan Ageng ditangkap VOC dan ditahan di Batavia.

Perang saudara yang berlangsung di Banten menyisakan ketidakstabilan dan konflik di masa pemerintahan berikutnya.

VOC semakin ikut campur dalam urusan Banten bahkan meminta kompensasi untuk menguasai Lampung sekaligus hak monopoli perdagangan lada di sana.

Merujuk Kemhub, usai Sultan Haji meninggal, VOC semakin menekan Kerajaan Banten. Hal tersebut pun membuat pengaruh Kerajaan Banten memudar dan ditinggalkan.

Saat ini Kerajaan Banten memiliki benda peninggalan yang menjadi bukti bahwa kerajaan ini pernah berjaya di masanya.

Jejak peninggalan Kerajaan Banten banyak berupa bangunan seperti Masjid Agung Banten, Istana Keraton Kaibon, Keraton Surosowan, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, dan Meriam Ki Amuk. ***

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles