Rabu, Juni 19, 2024

Sungai Pandan

Oleh: Hujan Tarigan

AKU tidak tahu, kapan pastinya orang-orang mulai menyembah dan mensakralkan sungai kecil di pinggir hutan di desa kami. Yang aku tahu, bahwa sejak kecil aku sudah diajarkan oleh kedua orang tuaku untuk menghormati dan menjaga aliran sungai itu agar tetap bersih dan asri.

Agaknya bukan aku saja yang diperintahkan oleh orangtua untuk menjaga sungai yang membelah hutan kami dengan kampung tetangga itu. Semua anak kecil seusiaku waktu itu wajib membersihkan dan menjaga aliran air sungai agar tetap jernih dan mengalir. Tradisi itu kami jalani sambung-menyambung dari generasi ke generasi.

Dulu aku pernah tanya kepada ayahku, kenapa setiap orang di kampung kami begitu menghormati sungai kecil dengan airnya yang yang tak begitu jernih itu. Tapi, begitulah, setiap jawaban yang diberikan kepadaku, selalu tidak masuk akalku. Aku pikir ayahku pun sama. Namun karena ini tradisi, ya tetap dijalankan saja.

Salah satu tradisi yang berlangsung di kampung kami adalah menyerahkan sesembahan di malam bulan bersinar terang. Tak ada jawaban yang masuk akal untuk penjelasan tradisi yang satu ini. Menurut orang-orang tua di kampungku, tradisi ini sudah cukup lama dijalankan. Persisnya sejak Pangeran Pecah Pandan membuka perkampungan di tengah hutan. Terlebih ketika proses pembuatan sungai ini, yang diceritakan sangat sarat dengan muatan mistik.

Dikisahkan kepadaku, bahwa suatu masa Pangeran Pecah Pandan ingin memberikan hadiah kepada rakyatnya yang sudah dengan giat bekerja membuka hutan liar untuk dijadikan kampung. Maka dengan doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta, Pangeran Pecah Pandan membuka surban yang melingkar di kepalanya. Setelah mengheningkan cipta, Pangeran Pecah Panda kemudian meletakkan kain surbannya itu ke tanah dan mulai mengulurnya hingga panjang. Nah, alkisah, setelah kain penutup kepala milik Sang Pangeran dibentangkan, perlahan riak-riak air muncul dan menjadi aliran sungai yang hingga saat ini masih melingkari pinggiran hutan di desa kami.

Itulah dongeng tentang asal usul sungai yang disucikan warga di kampungku. Adalagi kisah lain dibalik terjadinya aliran sungai. Alkisah, hingga saat ini, banyak penduduk yang mencoba mencari tahu dimana sungai ini bermula dan bermuara. Inilah cerita yang paling membuatku pusing dari segala cerita mengenai asal-usul terjadinya sunyai Pangeran Pecah Pandan.

Bapakku pernah bercerita padaku, bahwa di masa mudanya, dia selalu tertantang untuk mencari tahu kebenaran sumber air yang tak pernah kering. Namun begitulah, sama seperti generasi sebelumnya, Bapakku itu juga gagal mencari tahu sumber mata air dan akhir sungai ini mengalir. Entahlah, semua cerita tentang sungai itu benar-benar misteri.

Termasuk dengan siapa pelaku yang dengan tega telah mengotori sungai suci tersebut dengan kotoran tinjanya, beberapa hari yang lalu. Misteri.

Dua hari yang lalu, setelah malamnya purnama, seorang penduduk kampungku pergi ke pinggir kampung untuk menjajakan hasil bumi di kampung sebelah. Menurut pengakuan, pagi itu dia melintasi sungai Pandan. Namun begitu kakinya melewati sebuah jembatan bambu yang melintang di atas sungai, dia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang merendahkan martabat nenek moyang kami. Seonggok kotoran manusia dengan anggun mengambang pelan di antara daun-daun pandan yang tumbuh subur di tepi sungai itu.

Begitulah, peristiwa itu dengan sekejap membuat kampung kami geger. Tak ayal kepala kampung langsung mengumpulkun warga di tepi sungai Pandan. Kotoran manusia itu kemudian diangkat dan diletakkan di hadapan warga. Lantas Kepala Kampung memersilakan warga untuk melihat benda kuning yang masih berbentuk itu dari dekat.

“Saya mohon, kepada siapa saja yang merasa telah membuang kotorannya untuk maju dan berdiri di sisi saya. Saya jamin tidak akan terjadi apa,” perintah Kepala Kampung kepada warga. Empat orang polisi yang didatangkan dari luar kampung kemudian mengambil tempat di samping Kepala Kampung.

“Benar, bapak-ibu sekalian. Demi keamana dan ketentraman kampung kita, mohon yang merasa memiliki barang ini segera maju dan menyerahkan diri. Agar kami dapat memrosesnya secara hokum.” ujar Komandan Polisi.

Warga bertanya-tanya. Mana mungkin ada warga yang berani dan nekat untuk mengotori kesucian sungai Pandan. Kecuali kalau orang itu sudah bosan menjadi manusia dan siap untuk dikutuk menjadi beruk. Entahlah, dua hari yang lalu aku pun ikut pusing dengan kejadian itu.

Akhirnya dua hari yang lalu, usaha kami sia-sia untuk mendapatkan tersangka yang telah melakukan kebiadaban sejarah kampung kami. Untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan, Komandan Polisi kemudian menurunkan anggota lebih banyak lagi. Hal itu pasti dilakukan, pasalnya, warga di kampung kami menaruh kecurigaan besar terhadap kampung sebelah yang berada di seberang Sungai Pandan.

“Tapi, tidak mungkin salah seorang dari warga sebelah tega melakukan ini,” ujar seorang warga. Ratusan tahun kita sudah bertetangga. Dan akur. Tidak ada perkara serius yang terjadi diantara kita,”

“Tapi ini soal keyakinan,” sambut warga yang lain lagi.

“Keyakinan pun, keyakinanlah. Yang pasti aku yakin bukan mereka pelakunya.”

“Sudah-sudah bapak-ibu sekalian. Biarkan kasus ini ditangani polisi. Kami tidak ingin ada keributan yang terjadi antara warga kampung sini dengan kampung sebelah.” ujar Komandan Polisi.

“Kotoran ini kami bawa untuk keperluan penyidikan,” lanjut Komandan Polisi.

Sejak dua hari yang lalu, warga kampung kami memang bersiaga menjaga sungai. Sepanjang sungai dijaga ketat oleh warga. Dengan pisau terhunus dan alat berburu babi, warga mengawal sungai dengan dendam dipendam.

Setelah peristiwa kotoran mengambang itu, keesokan paginya, perwakilan desa tetangga muncul juga di desa kami. Suasana mencekam pagi itu. Pasalnya, tak ada seorang polisi pun yang muncul di antara kedua pihak itu.

“Kami datang untuk bersumpah, bahwa bukan warga kami yang melakukannya,” ujar Kepala Kampung Sebelah. Pengakuan itu disambut riuh warga desa kami.

“Bohong, selama ini warga desa kalian begitu sombong kepada kami,” ujar salah seorang warga kami.

“Betul,”

“Usir saja,”

“Paksa minta maaf,”

“Sabar-sabar bapak-ibu sekalian. Tenang,” ujar Kepala Kampung kami sambil membawa masuk perwakilan desa sebelah ke dalam balai desa.

Pada dasarnya warga di kampungku adalah orang-orang yang baik. Begitupula dengan berhubungan dengan desa sebelah. Warga di kampungku tidak mengambil pusing dengan budaya dan cara-cara warga di kampung sebelah yang banyak berbeda. Termasuk dalam mempercayai mitos sungai Pandan. Yang jelas sepengetahuanku, seperti juga kami, warga kampung sebelah juga memanfaatkan air sungai pandan untuk mengaliri sawah mereka.

Awalnya aku sempat bingung dengan status Sungai Pandan yang terletak di antara kampungku dengan kampung sebelah. Pasalnya, warga di kampung kami merasa paling memiliki sungai Pandan. Sehingga siapa pun yang datang dan perlu dengan air di sungai kami, selalu pamitan. Kampung sebelah adalah kampung baru. Yah, meski mereka sudah bermukim di sana jauh sebelum aku lahir, namun menurut bapakku, warga di sana tetaplah pendatang yang mesti pamit kepada warga desa kami yang asli keturunan rakyat Pangeran Pecah Pandan.

“Saya sudah menanyakan semua warga saya, dan meminta mereka semua bersumpah atas nama Tuhan,” ujar Kepala Kampung Sebelah kepada warga desa kami.

“Huh, Tuhan dibawa-bawa. Memangnya yang buang hajat di sungai itu ngomong-ngomong dulu sama Tuhan?” tanya seorang warga yang hadir disambut tawa yang lain.

“Hus, jangan sembarang lho,” sergah Kepala Kampung Sebelah.

“Huh, Anda yang jangan sembarangan,” balas warga yang lain sambil bangkit dari duduknya. Beberapa warga yang hadir di balai desa juga ikut bangkit.

“Tenang saudara-saudara. Kita harus membicarakan ini dengan baik-baik. Jangan sampai ada salah paham,” ujar Kepala kampung kami. Empat orang polisi akhirnya datang juga.

Sambil menenteng kotoran yang dibungkus plastik hitam, komandan polisi hadir ke tengah-tengah dan menenangkan warga yang tengah panas oleh suasana.

“Bapak-ibu sekalian, kami telah berusaha keras mencari tahu, siapa pemilik benda bau ini,” ujar Komandan Polisi sambil mengangkat tinggi kantong plastik yang ada di genggamannya.

“Pokoknya kami tak mau tahu, harus ada yang bertanggung jawab,” ujar seorang warga lain.

“Iya, memang harus ada. Namun ini pekerjaan sulit. Dan butuh waktu yang lama,” ujar komandan polisi lagi. Balai desa reda sejenak.

“Kami tidak rela bila sungai kami dicemari oleh orang-orang yang sengaja ingin mengolok keyakinan kami,” sambung warga itu lagi. Komandan Polisi diam. Begitu pula dengan Kepala Kampung Sebelah.

“Untuk pencemaran itu, kami siap untuk mati,” sambung warga yang lain lagi.

“Betul! Pokoknya siap!” sambung warga yang lain sambil mengangkat tinggi alat berburunya. Suasana semakin tegang. Komandan Polisi kehabisan kata.

Aku tak habis pikir atas kenekatan warga yang siap mati demi sebuah sungai. Menurutku ini sudah merupakan keyakinan yang buta. Bagaimana tidak, gara-gara sungai disinggahi kotoran, warga di kampungku siap untuk menyerang kampung sebelah yang boleh jadi tak tahu menahu soal kepemilikan benda itu. Ttapi begitulah, kenyatannya, saat ini aku pun siap mati untuk sungai Pandan.

“Atas nama Tuhan, kami bersumpah, bahwa bukan kami pelakunya. Tapi kalau memang warga di sini tetap mendesak, apa boleh buat. Kami sangggupi tantangannya,” ujar Kepala Kampung Sebelah hilang kesabaran. Sambil menahan amarahnya dia mencoba bangkit dan meninggalkan balai desa kami.

“Sabar dulu Pak,” cegah Komandan Polisi buru-buru. “Masa gara-gara kotoran kita perang saudara?”

“Ini bukan sekedar kotoran Pak. Ini soal harga diri kampung kami,” balas Kepala Kampung Sebelah.

“Huh, menantang, kita. Pendatang tak tahu diri,” ujar seorang warga.

“Sabar bapak-bapak. Ini soal sepele,” ujar Komanda Polisi lagi.

“Sepele apa? Pak Polisi bukan orang sini. Jadi tak tahu soal tradisi,” ujar Kepala Kampung kami tak kalah garang.

“Ini mau diselesaikan apa tidak sih?” Tanya Komandan Polisi hilang kesabaran.

“Diselesaikan bagaimana? Pak polisinya tak bisa diandalkan. Kami bisa menyelesaikannya sendiri kok. Betul tidak suadara-saudara?” ujar seorang warga lain disambut riuh pengunjung yang lain.

“Loh, kok jadi saya yang disalahkan?” tanya Komandan Polisi bingung.

“Iya. Masa ngurusin tahi saja tak bisa?”

“Eh, kamu melecehkan saya ya?” sambar Komandan Polisi sambil bersiap menarik pistol dari sarungnya.

“Itu kenyataannya,” sahut warga yang lain semakin kalap.

Seorang dari utusan warga kampung sebelah melarikan diri meninggalkan balai desa.

Balai desa rusuh. Tarik menarik terjadi antara komandan polisi, kepala kampung sebelah serta beberapa warga.

“Berhenti,” teriak Komandan Polisi. Sebuah letusan keras menyusul suaranya. Semua warga diam sejenak. Kemudian meneruskan melanjutkan tarik menarik. Aku bingung, tapi tetap maju menuju titik kerusuhan.

Komandan Polisi yang panik terus melerai warga yang bersitegang. Tanpa sadar kantong plastik yang berada di genngamannya jatuh ke lantai.

Kotoran berceceran di lantai. Warga terhenyak memandang isi bungkusannya yang terburai keluar.

Warga desa sebelah tiba-tiba bergerombol muncul di depan balai desa kami. Dengan peralatan berburu mereka bersiap masuk. Namun dengan sigap tiga anggota polisi yang lain mencegahnya.

“Lihat, dia jatuh. Kita kehilangan barang bukti,” kata komandan polisi sambil menunjukkan ceceran kotoran di lantai. Warga yang tarik menarik menghindar, menjauhi.

“Bagaimana sekarang?” tanya Kepala Kampung kami.

“Kita lanjutkan?” tanya Kepala Kampung Sebelah menantang.

“Stop, jangan konyol. Atau saya bawa anda semua ke kantor polisi?” tanya Komandan Polisi dengan tegas.

Balai desa hening. Di depan pintu masih terjadi dorong-dorongan.

“Anda semua bisa saya tuntut karena merusak barang bukti,” ujar Komandan Polisi sambil mengindari kotoran yang berceceran di lantai.

***

Ini hari kedua. Langit semakin gelap. Sejak pagi aku merayap menyusuri sungai untuk mencari hulu sungai. Semakin berjalan, semakin aku jauh memasuki hutan. Semakin berlalu, semakin tak kulihat lagi kampungku. Aku menghela nafas sejenak. Sekarang aku harus sendirian membelah kesuraman hutan.

Setelah peristiwa kemarin pagi, Komandan Polisi kemudian memaksa kedua kampung untuk mengurungkan niatnya bertempur. Pasalnya Komandan Polisi berdalih bahwa kasusnya ini tak mungkin bisa selesai tanpa adanya barang bukti. Nah, Komandan Polisi sendiri telah berjanji akan membantu penyelidikan. Untuk itu dia meminta kepada warga di kedua kampung untuk mengurungkan niatnya sejenak dan mencari kembali barang bukti yang lain.

Tak ada pilihan untuk warga di kampung kami, selain tetap mencari tahu siapa pelaku yang kurang ajar itu. Dan agaknya tidak ada pilihan juga buat kampung sebelah, selain ikut membantu kampung kami mengungkap kebenaran tentang benda bau yang menjijikkan itu.

Suara jangkrik keluar dari balik hutan yang beranjak gelap. Aku terus melangkah, menelusuri aliran sungai Pandan yang berkelok-kelok. Masuk hutan, keluar hutan. Lewati satu kampung, masuk kampung yang lainnya.

Dengan bantuan senter yang mulai redup cahayanya, aku terus mengikuti aliran sungai Pandan. Berjalan di antara semak pohon pandan yang tumbuh liar di bibir sungai.

Sungai Pandang tidak terlalu luas. Tapi bisa kukatakan, panjangnya tak dapat kukira. Seharian lelah aku sudah berjalan mencari sumber air sungai Pandan, dan hasilnya hingga saat ini aku masih mencari pangkalnya.

Menteng, 26 Desember 2007

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles