Kamis, Juni 20, 2024

Hipokrit Cina

Oleh Serosa Putra

Hipokrit adalah ketidak jujuran atau double standart policy Cina dalam hubungan Muslim Uighur dan aliansi menentang aktivitas teroris kawasan Asia Selatan yang terus dipersoalkan. Adakah keseriusan Cina atau tidak dari perspektif hak asasi muslim Uighur dan aktivitas kelompok teroris di kawasan ini. Setidaknya dunia mau melihat integritas Beijing terhadap kemanan dan kestabilan kawasan.

Fakta adanya ratusan anak-anak muslim Uighur Cina diambil sebagai anak tahanan. Kemudian dimasukkan dalam camp pendidikan merubah agama dan budaya sesuai dengan ideologi dianut komunis Cina bentuk pelanggaran human right. Di antara mereka berusia di bawah lima tahun. Hal ini lebih jauh coba diungkapkan seorang militan Pakistan Masood Azhar, baru-baru ini

Perserikatan Bangsa Bangsa telah menunjuk Masood Azhar sebagai representatif pemimpin (team leader). Ia adalah seorang militan Pakistan yang kontroversial. Mengingat di satu pihak ia seorang muslim asal Jammu Kashmir. Di lain pihak, ia menjadi leader penghubung Perserikatan Bangsa Bangsa. Ditambah lagi ia seorang anti India dan konon juga bagian dari jaringan militer  Pakistan yang terlibat serangan berdarah yang menewaskan 40 orang militer India, Februari  2018 lalu. Di masa lalu dia juga punya komunikasi dengan Osama Bin Laden.

Juga jarang terjadi otoritas Cina memberi kepercayaan kepada orang asing bekerjasama. Ini sebuah hipokrit Cina yang tidak lazim dan terkesan aneh. Namun demikian inilah yang terjadi. Tidak ada yang tahu kenapa tingkat kepercayaan tinggi demikian kepada seorang militan  Pakistan.

Pertanyaannya apakah Cina menciptakan kreasi baru untuk promote Athar. Yaitu menjadi presure membajak Azhar sebagai mastering pelaku serangan bom 14 Februari, yang intinya dengan militan Islam menentang India. Sementara terus menggalang kerjasama dengan New Delhi. Double standard policy Cina. Hal ini sama juga dengan policy Cina terhadap muslim Uighur, Provinsi Xinjiang. Bentuknya pendekatan yang ramah mendukung hak azazi manusia. Tapi di sisi lain tidak demikian. Bahkan menentangnya dengan melanggar hak asasi manusia.

Pakistan dengan figur Masood Azhar mendapatkan peluang dengan double standard policy Cina  dimaksud di atas. Hal itu dikaitkan dengan kasus serangan bom 14 Februari dimana Pakistan terlibat, yang dikecam didukung oleh pernyataan Dewan Keamanan PBB seperti Inggris, Amerika dan Perancis dan negara anggota dewan PBB yang lain. Cina menjadi tidak serius melawan dan menentang aksi bentuk teror seperti itu.

Dapat ditambahkan hipokrit Cina dalam kerjasama dengan Pakistan lewat China–Pakistan Economic Corridor (CPEC). Yaitu mengembangkan pelabuhan Gwadar menjadi lalu lintas perdagangan Kashmir yang berimpit dengan jaringan ekonomi kaum militan dan kelompok teroris. Cina meminta Pakistan mengembangkan ekonomi di kawasan tersebut. Lalu Pakistan memperoleh sumber keuangan (debt trap) dari Beijing.

Tidak tanggung-tangung Pakistan menurunkan lima belas ribu militer mengawal proyek infrastruktur dari investasi pinjaman Cina untuk Pakistan. Termasuk ribuan polisi yang tergabung dengan militer Pakistan.

Dalam hal keamanan dan ekonomi bagi Cina dan Pakistan tidak syak lagi kecenderungan untuk berkelanjutan. Yang intinya terdapat variasi faktor yang dipakai. Meski teroris adalah problem bersama, tapi juga dari sisi lain kelompok teroris menyumbangkan peluang bagi Pakistan dan Cina. Beijing sedang mempertaruhkan image integritasnya di panggung dunia.

Meskipun demikian membiarkan kelompok teroris bebas beraktivitas di wilayah ini seperti Afganistan, Pakistan dan wilayah sekitar kawasan, maka akibatnya wajah buruk pula untuk kawasan ini. Sesuatu yang tidak dikehendaki. Sesuatu yang kita tentang.

Adanya sosok Masood Azhar, memunculkan disintegrasi global. Terhadap kenyataan ini diperlukan solusi bersama dari masyarakat dunia. Yang intinya menjaga perdamain dan stabilitas global.

Aibatnya adalah jelas. Pakistan dan Cina mengutamakan vested interest-nya sendiri dengan membiarkan group teroris. Ini semakin menjauhkan harapan untuk melumpuhkan kelompok teroris. Ini cerminan kegagalan aliansi kekuatan barat yang dimotori Inggris dan Perancis menjaga stabilitas dunia.

Timbul persoalan jika saja Cina meneruskan kebijakan seperti itu, apa yang dapat dilaukan oleh negara lain. Membuatkan atau mencari aliansi lain. Sebab kalau berdiam diri maka yang akan terjadi teroris merajalela, dunia akan mengalami ketidakstabilan global.

Dalam perfektif demikan Cina dengan muslim Uighur policy-nya dan Pakistan dengan mem-promote sososk Masood Azhar, dapat disimpulan ada dua pola hipokrit yang dibangun oleh Cina dan Pakistan. Dua-duanya memberi peluang kepada teroris.

Ini pukulan terhadap retorika selama ini. Yang sesungguhnya retorika itu memodifikasi double standard policy. Seperti apa yang dikatakan Rixhard Beritain dari Senator Amerika. Ia mengatakan Amerika punya pusat tahanan teroris Guantanamo Bay. Ini bentuk keseriusan Amerika.

Cina dapat berbuat serupa. Artinya menbatasi kegiatan Masood Azhar. Menyetop segala kegiatannya. Seperti pengalaman yang dilaksanakan Amerika saat membendung group teroris Al Qaeda di Pakistan. Tapi sekali lagi Cina tidak melakukannya.

Akhirnya melegitimasi teroris dengan menolak aktivitasnya. Inilah standar ganda Beijing. Kita berpendapat hal ini suatu bentuk merongrong kestabilan dunia.

Jakarta, 17 Agustus 2018

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles