Rabu, Mei 29, 2024

Pertumbuhan Ekonomi Malaysia

Di antara persoalan yang dihadapi Pemerintahan Malaysia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Muhyiddin, yaitu, pertama, politik dan kedua, adalah masalah ekonomi. Kedua-duanya baik politik maupun ekonomi sama-sama penting untuk diatasi segera. Rakyat Malaysia menunggu apa lagi kebijakan yang akan dilakukan oleh Kerajaan.

Sangat penting memang. Bagaimanapun soal politik dan masalah ekonomi ibarat dua sisi mata uang. Tidak dapat hanya mengandalkan solusi satu masalah dan mengabaikan solusi masalah yang lain.

Mari kita mencoba meninjau keadaan politik Malaysia masa pemerintahan PM Muhyiddin yang belum sampai berusia setahun. Perkembangan masa ke masa, yaitu angka pertumbuhan dan fakta pengangguran.

Kita awali kondisi politik. Seperti kita ketahui bahwa Malaysia baru mengawali atau mengalami perubahan politik dari PM Mahathir Mohammad kepada PM Muhyiddin Yassin dilantik April 2020. Susunan kabinet baru mulai. Ini artinya para menteri anggota kabinet baru mulai bekerja.

Tentu saja policy-nya berbeda dengan sebelumnya. Kabinet dibentuk berbasis tiga partai, yaitu UMNO, Partai Islam PAS dan Partai Pribumi Bersatu (Bersatu). Dukungan tiga partai di atas kepada pemerintahan Musyawarah Nasional (MN) amat tipis yaitu 113 dari total 222 kursi di perlemen. Oposisi dengan kursi 109 terdiri Partai Keadilan Rakyat dan DAP serta dari independen (Sinar Daily, Kuala Lumpur, 15 Agustus 2020).

Partai berkuasa di bawah payung MN dipimpin PM Muhyiddin Yassin sendiri dari Partai  Pribumi Bersatu. Sementara oposisi dipimpin Anwar Ibrahim dari Partai Keadilan Rakyat di bawah payung Pakatan Rakyat (PKR).

Kondisi politik MN versus PKR sekarang ini memiliki perbedaan cukup signifikan, seperti soal pilihan raya, soal kerusuhan dan lain sebagainya. Namun masih terkendalikan oleh Kerajaan dengan baik. Artinya masih dalam suasana stabil.

Pertanyaan berikutnya bagaiman tentang ekonomi. Seperti pengangguran, Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada pertumbuhan negatif tapi semester II tahun 2020 ini tampak membaik.

Pengangguran dampak krisis Covid-19 sampai menyentuh angka 252 ribu orang Maret 2020 karena ditutupnya perusahaan pusat bisnis, namun sekarang pada awal smester 2020 ini sudah bekurang 78 ribu orang.

Pertumbuhan kuartal I tahun 2020 berada pada 0,7 persen kemudian membaik menjadi 1,7 persen kwartal II tahun 2020. Indikator ini positif. Akibat kebijakan baru untuk stimulus ekonomi dari PM Muhyiddin Yassin.

Dari dua faktor politik dan ekonomi pemerintah menunjukkan parbaikan yang signifikan. Ini penting untuk melihat kaitannya dengan krisis Covid-19 dengan recovery ekonomi. Meskipun di sana-sini politik di Malaysia masih ada masalah seperti faktor oposisi, problema dengan Mahathir Mohamad yang masih mempersoalkan kabinet yang baru dan belum ada titik temu. Tetapi suasana positif dan optimis rakyat Malaysia dengan kepiawaian PM Muhyidin Yassin sepertinya cukup baik.

Kita berpendapat prinsip Melayu perlu dilihat sebagai acuan masa depan. Kepentingan bangsa Melayu di atas segalanya dicari dalam kompromi. Sesuai pepatah Melayu klasik: Cabik-cabik bulu ayam lama-lama bertaut juga. Tak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan. Tiada keruh yang tak bisa dijernihkan. Insya Allah.

Jakarta, 20 Agustus 2020

*) Masud HMN adalah Doktor Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles